Jakarta, katasulsel.com — Di tengah eskalasi konflik antara Amerika Serikat–Israel melawan Iran, sikap Indonesia mulai mengerucut: tidak tergesa-gesa mengambil posisi.
Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi PKB, Syamsu Rizal, menyarankan pemerintah untuk menahan langkah terkait keterlibatan dalam Board of Peace (BOP).
“Kalau sekarang ini kita bertahan dulu saja melihat perkembangan aktualnya seperti apa karena luar biasa dinamisnya,” ujarnya.
Pernyataan ini mencerminkan satu pendekatan yang cukup realistis: menunggu arah konflik sebelum menentukan posisi strategis.
Di sisi lain, pemerintah juga memberi sinyal serupa.
Tenaga Ahli Kantor Staf Presiden (KSP), Khairul Fahmi, menyebut bahwa pembahasan terkait BOP untuk sementara ditunda.
Artinya, bukan dibatalkan—tapi belum jadi prioritas dalam situasi global yang masih bergerak cepat.
Yang menarik, sikap ini menunjukkan Indonesia memilih jalur “wait and see”, bukan reaktif.
Di tengah konflik yang melibatkan kekuatan besar dunia, keputusan untuk tidak terburu-buru justru bisa dibaca sebagai langkah menjaga posisi diplomatik tetap fleksibel.
Karena dalam situasi seperti ini, satu keputusan cepat bisa berdampak panjang.
Dan saat dinamika global berubah dari hari ke hari, menahan langkah bisa jadi strategi paling aman—sekaligus paling cermat.
