Sidrap, Katasulsel.com – Di Lawawoi, nama Apang Pella bukan sekadar nama kue. Ada orang yang mengenalnya dari lapak di pinggir jalan, ada yang membelinya untuk sarapan, dan ada pula yang mengenalnya sebagai panganan Bugis yang sejak dulu hadir dalam berbagai kesempatan.

Di Sidrap, jejaknya bahkan cukup kuat untuk diteliti. Sebuah penelitian Universitas Negeri Makassar pada 2019 mengambil objek 47 kios pengusaha kue tradisional apang di Datae, Kelurahan Lawawoi, Kecamatan Watang Pulu, Sidrap. Pemerintah Kabupaten Sidrap juga pernah mencatat program pembinaan produksi dan penataan lokasi kuliner tradisional kue apang di Kelurahan Batu Lappa dan Lawawoi.

Itulah yang membuat Apang Pella menarik. Kue ini bukan hanya tercatat sebagai makanan khas Sidrap, tetapi pernah menjadi bagian dari aktivitas ekonomi warga di salah satu kawasan kabupatennya.

Dari Kukusan, Keluar Kue Berwarna Cokelat

Apang Pella dibuat dari bahan yang tidak rumit. Tepung beras menjadi bahan utama, kemudian dicampur dengan gula merah atau gula aren. Resep yang berkembang dapat menggunakan ragi dan bahan tambahan lain sebelum adonan dikukus. Setelah matang, kue biasanya diberi kelapa parut.

Warna cokelatnya datang dari gula merah.

Teksturnya lembut dan berpori. Ketika baru matang, aromanya terasa lebih kuat. Kelapa parut di atasnya memberi rasa gurih yang memotong manis gula.

Di meja makan, tampilannya memang sederhana. Tidak ada lapisan warna-warni atau hiasan rumit.

Justru itu cirinya.

Kenapa Namanya Apang Pella?

Apang merupakan sebutan Bugis untuk kue yang dikenal luas sebagai apem. Sementara Apang Pella kerap dijelaskan sebagai apang panas. Sumber resep yang ditulis oleh orang yang memiliki pengalaman tinggal di Sidrap juga menggunakan istilah tersebut dan mengaitkannya dengan kebiasaan membeli Apang Pella di kawasan Lawawoi.

Penyebutan β€œpanas” terasa dekat dengan cara kue ini dinikmati.

Adonan yang sudah difermentasi dikukus sampai mengembang. Setelah tutup kukusan dibuka, kue masih hangat. Kelapa parut kemudian ditaburkan di atasnya.

Satu piring bisa habis sebelum kue benar-benar dingin.

Lawawoi Pernah Menjadi Titik Berkumpul Penjual Apang

Ada data yang membuat cerita Apang di Lawawoi lebih menarik daripada sekadar cerita kuliner.

Penelitian Elsa Ramadani dari Universitas Negeri Makassar pada 2019 secara khusus meneliti pengusaha kue tradisional apang di Datae, Kelurahan Lawawoi. Penelitian tersebut menggunakan populasi sebanyak 47 kios. Fokusnya adalah faktor yang memengaruhi minat berwirausaha para pengusaha kue tradisional apang di kawasan tersebut.

Angka itu memberi gambaran bahwa penjualan Apang di Lawawoi pernah membentuk aktivitas ekonomi yang cukup nyata. Ini bukan sekadar satu-dua orang yang membuat kue di rumah.

Pemerintah Kabupaten Sidrap juga mencatat pembinaan produksi dan penataan lokasi kuliner tradisional kue apang di Kelurahan Batu Lappa dan Kelurahan Lawawoi, Kecamatan Watang Pulu. Program tersebut tercantum dalam dokumen rencana kerja Dinas Koperasi Sidrap.

Dari sini, Lawawoi punya cerita sendiri dalam perjalanan Apang di Sidrap.

Dulu Hadir di Acara, Kini Bisa Dicari untuk Sarapan

Apang juga memiliki riwayat yang lebih panjang dalam masyarakat Bugis.

Sumber mengenai kue Apang menyebut makanan ini pernah hadir dalam acara penting dan prosesi tradisional masyarakat Bugis. Catatan kebudayaan mengenai pola kehidupan masyarakat Sulawesi Selatan juga mencatat apang sebagai salah satu kue tradisional yang pada masa tertentu disajikan dalam upacara tradisional atau selamatan keluarga.

Seiring waktu, ruangnya berubah.

Apang tidak hanya muncul ketika ada acara keluarga. Ia masuk ke pasar dan menjadi makanan yang bisa dibeli untuk disantap sehari-hari.

Perubahan itu terlihat dalam penelitian di Lawawoi. Ketika puluhan kios pengusaha apang menjadi objek penelitian ekonomi pada 2019, makanan yang dahulu dekat dengan acara tertentu sudah menjadi bagian dari aktivitas jual beli masyarakat.

Di luar Sidrap, perubahan serupa juga terlihat. RRI pada 2024 memberitakan seorang pedagang asal Sidrap yang menjual Apang Bugis di Lhokseumawe. Pedagang tersebut membuatnya dari gula aren dan tepung beras, lalu menyajikannya dengan kelapa parut dan sedikit garam.

Kue itu ikut berjalan bersama orang yang membuatnya.

Manis Gula Merah, Gurih Kelapa

Ada alasan sederhana mengapa Apang mudah dikenali.

Gula merah memberi warna sekaligus rasa manis. Tepung beras membentuk struktur kue. Proses fermentasi membuat adonan mengembang sebelum masuk kukusan.

Setelah matang, kelapa parut menjadi pelengkap.

Dalam salah satu resep Apang Pella yang dikaitkan dengan Sidrap, adonan menggunakan tepung beras, gula merah, ragi, serta bahan pengembang, kemudian dikukus dan disajikan bersama kelapa parut.

Komposisinya bisa berbeda antara satu pembuat dan pembuat lainnya. Namun, tiga hal mudah dikenali: warna cokelat, tekstur lembut, dan kelapa parut di atasnya.

Apang Masih Tercatat sebagai Kuliner Sidrap

Apang tidak hanya hidup dalam cerita penjual dan pembeli.

Penelitian tentang pusat wisata kuliner tradisional Kabupaten Sidenreng Rappang yang terbit pada 2024 memasukkan Kue Apang dalam daftar kuliner tradisional Sidrap bersama Becce Laung, Roti Berre, dan sejumlah makanan lainnya.

Sumber kuliner lain juga mencatat Apang sebagai makanan khas Sidrap dan menyebut keberadaannya di kawasan Sidrap, Pinrang, hingga Parepare.

Sementara itu, penelitian di Lawawoi memperlihatkan bahwa Apang pernah menjadi sumber aktivitas usaha bagi puluhan kios di Datae.

Dari satu kukusan, kue-kue cokelat itu keluar bergantian.

Ada yang langsung dibungkus. Ada yang dimakan bersama kopi. Ada yang dibawa pulang.

Di Lawawoi, Apang Pella punya cerita yang lebih panjang daripada bentuknya: dari kue tradisional yang hadir dalam kehidupan masyarakat Bugis, menjadi dagangan yang memenuhi kios-kios warga, lalu tetap dikenali sebagai salah satu kuliner Sidrap.