Sidrap, Katasulsel.com – Namanya roti, tetapi bahan utamanya bukan tepung terigu. Di Sidrap, makanan berbentuk bulat pipih ini dibuat dari tepung beras dan pisang, lalu dimasak di atas wajan menggunakan palekko, penutup dari tanah liat yang lebih dulu dipanaskan.

Makanan tersebut dikenal sebagai Roti Berre. Dalam sejumlah sumber, Roti Berre juga disebut Roti Panguttu atau Roti Otti. Cara memasaknya yang menggunakan penutup tanah liat menjadi salah satu ciri yang membedakannya dari jajanan berbahan beras lainnya.

Berre Berarti Beras

Nama Roti Berre berkaitan dengan bahan utamanya. Dalam bahasa Bugis, berre berarti beras.

Roti Berre dibuat dari tepung beras yang dicampur pisang, gula, dan bahan lain sesuai resep yang digunakan. Kajian mengenai makanan tradisional masyarakat Sulawesi Selatan mencatat Roti Berre atau Roti Panguttu sebagai salah satu panganan tradisional Sidenreng Rappang.

Bentuknya tidak seperti roti modern. Adonannya dibuat bulat dan pipih, lalu dimasak hingga bagian permukaannya matang dan berwarna kecokelatan.

Karena menggunakan pisang, rasa dan aromanya tidak hanya berasal dari tepung beras. Pisang menjadi bagian penting dari karakter makanan ini.

Panas Datang dari Dua Arah

Bagian paling menarik dari pembuatan Roti Berre justru muncul setelah adonan berada di atas wajan.

Api dinyalakan dari bawah. Sementara itu, palekko dipanaskan dan diletakkan sebagai penutup wajan.

Dengan cara tersebut, panas bekerja dari dua arah. Bagian bawah adonan bersentuhan dengan permukaan wajan, sedangkan bagian atas mendapatkan panas dari penutup tanah liat.

Teknik ini menggunakan peralatan sederhana untuk menghasilkan proses pemanggangan yang menyerupai fungsi oven.

Pemerintah Kabupaten Sidrap pada 2026 mencatat penggunaan api kecil dan tutup tanah liat dalam pembuatan Roti Berre sebagai salah satu teknik tradisional masyarakat Bugis. Teknik tersebut bahkan pernah diadaptasi pelaku usaha kuliner di Sidrap untuk memanggang pizza ketika belum memiliki oven.

Mengapa Tidak Langsung Memakai Oven?

Jawabannya ada pada dapur tradisional.

Sebelum oven menjadi peralatan yang umum digunakan di rumah, masyarakat memiliki cara sendiri untuk menciptakan panas dari atas. Palekko yang dipanaskan kemudian berfungsi sebagai sumber panas tambahan.

Cara tersebut membuat Roti Berre tidak sekadar memiliki resep, tetapi juga memiliki teknik memasak yang melekat pada pembuatannya.

Di sinilah wajan dan penutup tanah liat menjadi bagian penting. Mengganti salah satunya berarti mengubah cara makanan tersebut dimasak.

Roti Berre Bukan Cuma Ada di Sidrap

Roti Berre juga dikenal di sejumlah wilayah masyarakat Bugis lainnya.

Kajian Universitas Negeri Makassar mencatat panganan berbahan tepung beras dan pisang ini di beberapa daerah Bugis, termasuk Sidrap dan Wajo. Penyebutan namanya dapat berbeda di masing-masing daerah.

Di Sidrap sendiri, Roti Berre masih muncul dalam berbagai catatan mengenai makanan tradisional daerah. Penelitian tentang pengembangan kuliner tradisional Sidrap juga mencantumkannya bersama Becce Laung, Kue Apang Pella, Bolu Cukke, dan sejumlah panganan lainnya.

Pada 2024, Roti Berre kembali diperkenalkan sebagai salah satu kuliner Sidrap ketika makanan tradisional daerah tersebut disajikan dalam kunjungan penulis buku kuliner Celebes Island and Maluku Food ke UMS Rappang.

Ada yang Menyantapnya dengan Saus Manis

Roti Berre dapat disantap setelah matang. Dalam beberapa penyajian, makanan ini juga dipadukan dengan saus bercita rasa manis.

Salah satu pelengkap yang disebut dalam sumber kuliner adalah palopo’, yang dibuat dari gula merah. Ada pula penyajian dengan campuran gula merah dan daging durian.

Pelengkap tersebut membuat rasa Roti Berre berubah dari sekadar manis pisang dan gula menjadi lebih kuat. Aroma durian, jika digunakan, memberikan karakter yang berbeda pada makanan yang bahan dasarnya sederhana itu.

Dari Wajan ke Dapur Masa Kini

Roti Berre kini berada di antara dua keadaan.

Di satu sisi, ia masih dikenali sebagai salah satu kuliner tradisional Sidrap. Di sisi lain, cara pembuatannya bergantung pada teknik dan peralatan yang tidak selalu digunakan dalam dapur modern.

Palekko tetap menjadi bagian menarik dari cerita makanan ini. Penutup tanah liat yang dipanaskan, diletakkan di atas wajan, lalu dibiarkan bekerja bersama api kecil.

Adonan tepung beras dan pisang perlahan matang di bawahnya.

Roti Berre pun selesai tanpa oven, dengan wajan dan panas dari tanah liat yang sejak dulu menjadi bagian dari cara memasaknya.