Sidrap, Katasulsel.com – Di antara kuliner khas Sidenreng Rappang atau Sidrap, nama Nasu Palekko mungkin lebih mudah dikenali. Namun, ada kudapan lama yang menyimpan cerita berbeda, yakni Becce Laung. Makanan berbahan beras, kelapa muda, dan garam ini dahulu dikenal sebagai bekal perjalanan, termasuk oleh jemaah haji yang berangkat menggunakan kapal laut.

Becce Laung juga dikenal dengan nama Sakko-Sakko. Bentuknya berupa butiran kecil hasil sangrai tepung beras dan kelapa. Sederhana, tetapi justru cara menyantapnya menjadi bagian dari cerita makanan ini.

Becce Laung Sidrap Dibuat dari Beras dan Kelapa

Bahan Becce Laung Sidrap tergolong sederhana. Beras direndam terlebih dahulu, kemudian ditiriskan dan digiling sampai halus. Tepung tersebut dicampur dengan kelapa muda yang sudah dibuang kulit arinya serta garam.

Campuran kemudian disangrai hingga berubah warna kecokelatan dan membentuk butiran. Setelah matang, Becce Laung dapat disantap dengan tambahan gula pasir.

Cara pengolahan seperti ini menghasilkan kudapan yang berbeda dari kebanyakan kue tradisional yang membutuhkan proses kukus atau panggang. Tidak ada lapisan, isian, maupun bentuk yang rumit. Bahan utamanya justru memperlihatkan pangan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Becce Laung juga tercatat dalam kajian mengenai makanan tradisional empat etnis di Sulawesi Selatan. Dalam daftar kuliner Sidenreng Rappang, makanan ini dicatat sebagai kue Becce Laung seko-seko dan juga Becce Laung.

Mengapa Disebut Becce Laung?

Nama Becce Laung tidak memiliki satu riwayat yang dapat dipastikan sebagai asal-usulnya.

Salah satu penjelasan yang pernah disampaikan dalam sumber kuliner mengaitkan kata Becce dengan sapaan kepada perempuan atau gadis dalam bahasa Bugis, sedangkan Laung dikaitkan dengan sesuatu yang lama. Penjelasan tersebut kemudian dihubungkan dengan makanan yang dibuat oleh perempuan dan dapat disimpan dalam waktu cukup panjang. Namun, penjelasan ini merupakan versi yang berkembang, bukan etimologi yang telah dibuktikan melalui sumber sejarah.

Nama lainnya, Sakko-Sakko, justru berkaitan dengan pengalaman ketika makanan itu disantap.

Tekstur Becce Laung yang berupa butiran tepung membuatnya mudah masuk ke tenggorokan atau bahkan ikut terhirup ketika dimakan. Karena itu, masyarakat Makassar mengenalnya dengan sebutan Sakko-Sakko yang berkaitan dengan kondisi tersedak. Teh, kopi, atau air putih biasanya menjadi teman makan kudapan tersebut.

Nama yang berbeda itu menunjukkan bagaimana satu jenis makanan dapat dikenal dengan sebutan berbeda di lingkungan masyarakat Bugis dan Makassar.

Pernah Dibawa Jemaah Haji

Ada cerita lain yang membuat Becce Laung lebih dari sekadar camilan.

Pada masa ketika perjalanan haji dari Indonesia masih dilakukan menggunakan kapal laut, perjalanan menuju Tanah Suci membutuhkan waktu panjang. Makanan yang dapat bertahan selama perjalanan menjadi bagian penting dari bekal.

Becce Laung termasuk makanan yang dilaporkan pernah dibawa oleh jemaah haji pada masa tersebut. Sifatnya yang kering membuatnya lebih praktis disimpan dibanding makanan basah. Merdeka mencatat keterangan Fajar Djuanda, pengusaha katering asal Makassar, bahwa Becce Laung juga dibawa jemaah haji tempo dulu karena perjalanan saat itu menggunakan kapal laut.

Cerita yang sama juga berkaitan dengan masyarakat Bugis yang merantau untuk menempuh pendidikan. Becce Laung disebut pernah menjadi bekal mahasiswa ketika kembali ke kota setelah pulang kampung.

Dengan begitu, makanan ini pernah mengikuti dua jenis perjalanan yang penting dalam kehidupan masyarakat: perjalanan menuju Tanah Suci dan perjalanan meninggalkan kampung halaman untuk menuntut ilmu.

Becce Laung Pernah Populer pada 1960-an hingga 1990-an

Popularitas Becce Laung disebut cukup kuat pada masa 1960-an hingga 1990-an. Pada periode tersebut, kudapan ini dikenal sebagai bekal perjalanan bagi masyarakat Bugis. Sumber lain menyebutnya sebagai salah satu makanan yang dahulu dibawa calon jemaah haji, selain bajabu atau abon ikan.

Pada generasi mahasiswa yang merantau pada dekade 1980-an dan 1990-an, Becce Laung juga disebut menjadi bekal dari kampung. Makanan yang tidak membutuhkan tempat besar dan relatif awet membuatnya sesuai untuk dibawa dalam perjalanan.

Kini, keberadaan Becce Laung tidak lagi semudah makanan yang diproduksi secara massal. Salah satu sumber kuliner bahkan mencatat makanan ini semakin jarang dibuat keluarga dan tidak lagi mudah ditemukan di warung-warung karena tergeser oleh berbagai camilan modern.

Meski begitu, Becce Laung masih tercatat dalam berbagai sumber mengenai kuliner tradisional Sidrap. Penelitian mengenai pusat wisata kuliner tradisional di Kabupaten Sidenreng Rappang yang terbit pada 2024 juga memasukkan Becce Laung bersama Kue Apang, Roti Berre, dan Sokko sebagai bagian dari kuliner tradisional daerah tersebut.

Dari Bekal Perjalanan Menjadi Jejak Kuliner Sidrap

Becce Laung tidak mempunyai tampilan yang mencolok. Tidak pula membutuhkan bahan yang sulit ditemukan. Beras, kelapa muda, dan garam cukup untuk menghasilkan kudapan yang dahulu ikut mengisi perjalanan orang-orang dari kampung.

Di balik butiran kecilnya terdapat kebiasaan lama: makanan disiapkan agar dapat dibawa jauh, disimpan lebih lama, lalu disantap ketika perjalanan berlangsung.

Karena itu, ketika nama Becce Laung kembali disebut dalam daftar kuliner Sidrap, yang muncul bukan hanya soal rasa. Ada jejak perjalanan jemaah haji, mahasiswa yang merantau, serta kebiasaan keluarga Bugis menyiapkan makanan dari rumah untuk dibawa ke tempat yang jauh.