Sidrap, Katasulsel.com β€” Ada sumur yang dibuat dengan menggali tanah.

Ada pula sumur yang, menurut tutur masyarakat, justru bermula dari sebuah tombak.

Di Desa Lise, Kecamatan Panca Lautang, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan, kisah itu masih hidup sampai sekarang.

Namanya Sumur Lise.

Masyarakat setempat juga menyebutnya Bujung Sumpuru Bessi.

Bukan sekadar mata air.

Tempat ini menyimpan cerita yang bercampur antara sejarah lokal, ingatan kolektif, dan tradisi masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Konon, pada akhir abad ke-19, seorang prajurit Kerajaan Sidenreng bernama La Maddangkang, yang lebih dikenal sebagai Kapitang Bolong, beristirahat di bawah sebuah pohon setelah pulang dari peperangan melawan tentara kolonial Belanda.

Dalam tutur masyarakat, Kapitang Bolong dikenal sebagai sosok prajurit yang memiliki kesaktian.

Saat sedang duduk beristirahat, ia menancapkan tombaknya ke tanah.

Tidak ada yang menyangka, tindakan sederhana itu kemudian menjadi bagian dari cerita yang terus dikenang masyarakat Lise.

Setelah Kapitang Bolong mencabut tombaknya, air disebut-sebut memancar dari dalam tanah.

Bukan sekadar rembesan.

Air itu terus mengalir.

Masyarakat kemudian membendung dan membuat tempat penampungan untuk menahan luapan air tersebut.

Dari situlah kemudian lahir apa yang kini dikenal sebagai Sumur Lise atau Bujung Sumpuru Bessi.

Dari medan perang ke mata air

Cerita ini menarik karena mempertemukan dua dunia.

Di satu sisi ada sejarah kolonial: masa ketika wilayah Nusantara, termasuk Sulawesi Selatan, mengalami pergulatan dengan kekuasaan Belanda.

Di sisi lain ada sejarah lisanβ€”cerita yang tidak selalu hadir dalam buku-buku sejarah, tetapi bertahan melalui ingatan masyarakat.

Kisah Kapitang Bolong dan munculnya mata air tersebut hidup dalam tradisi tutur masyarakat Lise.

Karena itu, cerita tentang asal-usul sumur ini lebih tepat dibaca sebagai bagian dari warisan sejarah dan folklor lokal, sementara kepastian detail historisnya tetap membutuhkan penelusuran sumber sejarah tertulis atau penelitian arkeologis.

Namun justru di situlah daya tariknya.

Sejarah tidak selalu tinggal di museum.

Kadang ia hidup di bawah pohon.

Kadang melekat pada sebilah tombak.

Dan kadang muncul dalam bentuk mata air yang tidak pernah berhenti mengalir.

Sumur yang menjadi ruang tradisi

Kini Bujung Sumpuru Bessi bukan hanya dikenal oleh masyarakat Desa Lise.

Warga setempat maupun pendatang ramai mendatangi lokasi tersebut.

Tempat itu bahkan dianggap sakral oleh sebagian masyarakat.

Salah satu tradisi yang masih dilakukan adalah melemparkan uang koin ke dalam sumur.

Tradisi tersebut menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat ketika berkunjung ke situs mata air itu.

Di sinilah sebuah mata air berubah fungsi.

Dari sekadar sumber air menjadi ruang budaya.

Ada ingatan sejarah.

Ada cerita kepahlawanan.

Ada kepercayaan masyarakat.

Dan ada tradisi yang terus diwariskan.

Nama boleh tua, ceritanya tetap hidup

Bujung Sumpuru Bessi mungkin bukan situs sejarah yang namanya ramai disebut dalam buku pelajaran.

Tetapi bagi masyarakat Lise, tempat ini mempunyai cerita sendiri.

Cerita tentang seorang prajurit.

Tentang tombak.

Tentang peperangan pada masa kolonial.

Dan tentang air yang dipercaya muncul setelah tombak itu dicabut dari tanah.

Kini, setiap kali air mengalir dari Sumur Lise, cerita lama itu seolah ikut mengalir bersamanya.

Benar atau tidak seluruh detail kisahnya secara historis, satu hal jelas: masyarakat telah menjadikan cerita tersebut sebagai bagian dari identitas lokal.

Dan mungkin, itulah salah satu wajah sejarah yang sering terlupakan.

Sejarah bukan hanya tentang raja, perang, dan tanggal-tanggal besar.

Sejarah juga tentang cerita yang disimpan sebuah kampung.

Tentang nama yang diwariskan.

Tentang tempat yang dianggap keramat.

Dan tentang sebuah sumur yang konon bermula dari satu tusukan tombak.

Di Lise, airnya masih mengalir.

Cerita tentangnya pun belum berhenti. (*)