Ia mengaku meneteskan air mata kala Livia mengucapkan kata terima kasih kepadanya. Anakku menyadari, perjalanan kuliah tersebut bukanlah ringan. Penuh lika-liku. Kini, Livia menunggu proses lanjutan yakni internship sesuai petunjuk Kementerian Kesehatan.
“Saya memang ada kesamaan dengan keuarga Kuatson. Sama-sama dari keterbatasan. Kuatson menyekolahkan anak mengandalkan hasil tani. Luar biasa bukan? Persamaan lain, sama-sama dari Sidikalang dan sama-sama cumlaude”, kata Acun.
Pun begitu, Acun mengakui, tahapan yang dilalui pasti berbeda. Mungkin Livia dan Sabrina kenal setelah di kampus. Sebab jenjang pendidikan SD hingga SMA tak bertemu. Perbedaan lain, selisih 0,01. Anakku kurang satu titik.
“Saya sedikit kenal dengan Kuatson. Abangnya, Mestron Siboro purnabhakti pejabat Polda Sumut, teman saya”, kata Acun.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Istri Acun, Samsiah menyebut, Livia masuk ke kedokteran lantaran berobsesi mengikuti jejak kakaknya. Ibu rumah tangga ini mengutarakan, 2 si buah hati tamat dari fakultas kedokteran.
dr Lita Stefania Sianturi lagi melanjutkan studi dokter spesialis jantung atau bedah torax di Universitas Udayana Bali dan dr Caca Theresia Sianturi bekerja di RS Mitra Medika Medan.
“Jadi, 3 anak kami tamat dari kedokteran USU. Ini berkat kemurahan Allah. Bukan kekuatan kami”, kata Samsiah.
Apalah kami, kata Samsiah. Bisa lihat sendiri, pak Acun duduk di kursi roda. Namun keajaiban dibuka Allah. DIA membuka jalan.
Jenjang pendidikan, kata Samsiah, Livia menyelesaikan pendidikan di SD Katolik St Josef Sidikalang. Kemudian lanjut ke SMP Katolik Santu Paulus Sidikalang. Seterusnya masuk di SMA 1 Sutomo Medan.
Siapakah Acun? Kepala keluarga ini adalah penyandang disabilitas. Ia tak bisa berdiri. Separuh badan tak bertenaga. Hanya duduk di atas kursi roda dari hari ke hari. Derita itu dialami puluhan tahun. Bahkan sebelum berumah tangga.
Namun di balik keterbatasan, semangat membangun generasi mampu mengabaikan sandungan. Salah satu sumber nahkah, rutin buka toko jualan bahan bangunan. Selain menguasai beberapa bahasa daerah, ia juga fluent in English. Sementara pendidikannya, tamat STM.
Bagaimana dengan Sabrina? Lamria menyebut, Sabrina adalah anak ke 2 dari 6 bersaudara.
“Sabrina memang tidak banyak waktu bermain. Selagi ada waktu belajar, yah belajar. Jarang ke luar rumah”, kata Lamria.
Dia mengutarakan, membutuhi pendidikan anak memang berat. Mengapa? Ngak dapat gaji dari negara. Orang namanya ‘pangula (petani). Tidak ada penghasilan tetap. Semua tergantung hasil ladang.
“Bapaknya, pukul 7 pagi sudah berangkat ke ladang di Panji Bako Kecamatan Sitinjo. Balik ke rumah pukul 8 malam. Begitu aktivitas hampir setiap hari. Selagi ada kesempatan anak ikut membantu”, kata Lamria.
Di lahan yang tidak terlalu luas, mereka membudidayakan beberapa komoditas. Diantaranya kopi dan cabe serta sayuran.
“Realitasnya, anak memang punya rejeki sendiri. Kami pernah panen cabe saat harga Rp100 ribu per kilo. Makanya bisa bangun rumah. Demikian mukjijat Tuhan. Doa mesti mengalami langkah kaki.”, kata Lamria.
Khusus selama menjalani praktek apoteker, cost sangat tinggi. Uang kuliah per semester Rp16 juta selama 1 tahun. Total Rp32 juta.
“Paling berat itu biaya praktek. Tak kemana Rp50 juta per semester. Kenapa? Lokasi prakteknya pindah-pindah kota. Kadang di Medan, Jakarta dan lainnya. Perlu uang kost, tiket pesawat. Rp100 juta lebih untuk penyelesaian praktek”, kata Lamria.
Asal ada talopin masuk, kata Lamria, hah…tahulah kita. Berarti, mau minta uanglah itu. Yah, dijalani saja, Dikirim seperlunya. Kadang Rp5 juta, da kadang berapalah. Selalu dipesan agar hemat-hemat. Payah cari duit, nak.
Tetapi, kepenatan itu berubah tawa kala nama ‘ boru hasian (putri tercinta) disebut meraih nilai cumlaude IP 4,0.
………………..
