Sidikalang, katasulsel.com – Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Pembangunan Dairi, Sumatera Utara, mulai menggeber pengembangan sektor agribisnis dengan menyewa 3 lahan milik Pemkab Dairi dan menyiapkan dukungan modal mencapai Rp1,5 miliar.
Langkah ekspansi itu disampaikan Direktur Utama Perumda Pembangunan Dairi, Tamrin Pandiangan, Jumat (22/5/2026).
Tiga lahan yang dikontrak berada di Balai Benih Ikan (BBI) Bantun Kerbo, Desa Sumbul, Kecamatan Lae Parira, eks areal perumahan di Jalan Gereja Sidikalang, serta lahan seluas 4 hektare di Huta Nadeak, Kelurahan Sidiangkat, Kecamatan Sidikalang.
Untuk menguasai tiga lokasi tersebut, Perumda menggelontorkan biaya sewa Rp110 juta dengan masa kontrak 5 tahun.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
“Kami sewa tiga lokasi. Nilai total Rp110 juta untuk lima tahun,” ujar Tamrin.
Anggaran sewa itu diambil dari Silpa 2025 sebesar Rp730 juta, yang menjadi salah satu sumber pembiayaan awal pengembangan usaha.
Saat ini, Perumda fokus pada 2 sektor agribisnis utama, yakni peternakan dan perikanan.
Di sektor peternakan, perusahaan sudah membudidayakan 700 ekor bebek petelur. Jumlah tersebut ditarget melonjak drastis menjadi 5.000 hingga 10.000 ekor dalam pengembangan berikutnya.
Dari populasi awal 700 ekor, produksi saat ini sudah menyentuh sekitar 700 butir telur per hari.
Tak hanya itu, sektor perikanan juga mulai digarap melalui budidaya 60 ribu ekor ikan lele, dengan target panen 1 kali setiap 6 bulan.
Dua usaha tersebut dipusatkan di kawasan BBI Bantun Kerbo sebagai sentra awal agribisnis Perumda.
Sementara itu, lahan 4 hektare di Huta Nadeak yang selama ini terbengkalai dan dipenuhi semak belukar bakal disulap menjadi kawasan perkebunan kopi produktif.
Perumda menilai pengembangan kebun kopi ini penting untuk mendorong kebangkitan kembali nama besar Kopi Sidikalang sebagai komoditas unggulan Dairi.
“Pemerintah perlu punya kebun kopi sendiri yang dikelola intensif dan profesional sebagai percontohan,” kata Tamrin.
Untuk menopang seluruh rencana tersebut, Perumda mendapat penyertaan modal Rp1 miliar pada tahun pertama, lalu tambahan Rp500 juta di APBD 2026.
Artinya, total dukungan modal yang disiapkan mencapai Rp1,5 miliar.
Namun dari anggaran itu, rata-rata Rp70 juta per bulan terserap untuk kebutuhan gaji pegawai dan operasional perusahaan.
Dengan kekuatan 3 lahan, 700 bebek, 60 ribu lele, kebun kopi 4 hektare, serta modal Rp1,5 miliar, Perumda Pembangunan Dairi mulai memosisikan diri sebagai motor baru agribisnis daerah berbasis potensi lokal.aji pegawai dan biaya operasional mencapai sekitar Rp70 juta per bulan.
Melalui pengembangan agribisnis ini, Perumda Pembangunan Dairi menargetkan tidak hanya membangun unit usaha produktif, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru berbasis potensi lokal—mulai dari peternakan, perikanan, hingga kebangkitan kembali kejayaan Kopi Sidikalang. (*)
