Ia tak punya ijazah SMA. Namun satu tahun hidup di kota kecil Kansas justru memberinya pelajaran yang tak pernah ia dapatkan di ruang kelas.
Oleh: Edy Basri
Ada saja pengakuan yang sulit dipercaya.
āSaya tidak pernah lulus SMA.ā
Begitu kata A.A.
Teman saya ini, sangat jujur.
Bukan karena lupa mengambil ijazah.
Bukan karena ijazahnya hilang.
Memang tidak pernah punya.
Silakan dicek ke sekolah-sekolah yang pernah dilaluinya.
Ijazah SMA itu tidak ada.
Yang lebih menarik: A.A. hanya pernah duduk di bangku SMA selama setahun.
Lalu?
Hidupnya baik-baik saja.
Bahkan perjalanannya kemudian justru menjadi panjang.
Semua bermula di Surabaya.
Saat itu A.A. masih kelas tiga SMP.
Ayahnya seorang wartawan.
Dunia jurnalistik ketika itu bukan dunia yang nyaman.
Ada tekanan.
Ada ancaman.
Ada risiko.
Sang ayah tidak ingin anaknya mengalami kehidupan seperti dirinya.
āAbah ini bisa ditangkap kapan saja.ā
Begitu kira-kira pesan yang pernah disampaikan kepada A.A.
Maka dicari jalan.
Kalau bisa, anak-anak dikirim ke luar negeri.
Masalahnya cuma satu.
Uang.
Keluarga mereka belum punya cukup uang untuk seenaknya menerbangkan anak ke Amerika.
Lalu datanglah sebuah iklan di koran.
Program pertukaran pelajar ke Amerika.
Tes.
Wawancara.
Selesai.
A.A. ikut.
Tidak belajar khusus.
Tidak punya ambisi khusus.
Anak SMP memang sering begitu.
Kalau disuruh ikut, ya ikut.
Ternyata lolos.
Juli 1993.
A.A. berangkat ke Amerika.
Umurnya baru 16 tahun.
Ia termasuk yang paling muda dari sekitar 80 pelajar Indonesia yang berangkat bersama.
Bersambung….
Pesawat Garuda membawa mereka dari Jakarta menuju Los Angeles.
Transit di Denpasar.
Biak.
Honolulu.
Zaman itu pesawat belum punya layar hiburan di setiap kursi.
Internet belum ada.
Handphone belum ada.
Jadi anak-anak itu mencari hiburan sendiri.
Ada yang bermain gitar.
Ada yang bercanda.
Ada yang membuat ribut di belakang pesawat.
A.A. mungkin belum tahu bahwa perjalanan itu akan mengubah hidupnya.
Tiba di Amerika, mereka tidak langsung masuk sekolah.
Tiga pekan pertama digunakan untuk orientasi.
Bagaimana berbicara dengan orang Amerika.
Bagaimana melakukan small talk.
Bagaimana makan.
Bagaimana memegang sendok dan garpu.
Bagaimana membukakan pintu untuk orang lain.
Bahkan bagaimana bersikap ketika berkencan.
Satu pelajaran yang paling diingat A.A. sederhana:
Jangan malu.
Kalau mau sesuatu, katakan.
Kalau tidak suka, katakan.
Orang Amerika, menurut pengalamannya, lebih terus terang.
Tidak perlu terlalu banyak basa-basi.
Tiga pekan selesai.
Datanglah saat paling menegangkan.
Amplop dibagikan.
Isinya tempat tinggal masing-masing.
Ada yang mendapat kota.
Ada yang mendapat desa.
Ada yang bahkan dikirim ke peternakan.
Tetangga terdekatnya tiga kilometer.
A.A. mendapat Kansas.
Tengah-tengah Amerika.
Kalau Amerika itu sebuah peta besar, ia seperti ditaruh tepat di tengah.
Ia kemudian ditempatkan di Ellinwood.
Penduduknya sekitar 2.800 orang.
Kecil sekali.
Tetapi justru kota kecil itulah yang menjadi sekolah kehidupan A.A.
Ia tinggal bersama keluarga John dan Chris Mohn.
Mereka punya seorang anak perempuan, Andrea.
John guru Bahasa Inggris.
Juga mengajar jurnalistik.
Dan punya koran lokal.
Namanya Ellinwood Leader.
Chris guru bahasa Spanyol.
Andrea aktif di kegiatan sekolah.
Maka ada ironi kecil di sini.
Ayah A.A. mengirim anaknya jauh-jauh dari Indonesia agar tidak terlalu dekat dengan dunia jurnalistik.
Di Amerika, A.A. malah tinggal bersama keluarga pemilik koran.
Seperti orang yang sedang mencoba lari dari hujan.
Malah berteduh di bawah talang.
Selama setahun, keluarga Mohn menjadi keluarganya.
Makan bersama.
Tinggal bersama.
Sekolah bersama.
Dan A.A. mulai bekerja.
Ia membantu John di koran.
Akhir pekan, ia melatih sepak bola anak-anak SD.
Upahnya 15 dolar per jam.
Lumayan.
Bersambung….
Uang dari Indonesia?
Tidak banyak.
Dalam setahun, ayahnya hanya memberi sekitar 250 dolar.
Selebihnya?
Cari sendiri.
Di umur 16 tahun.
Di Kansas.
Jauh dari Surabaya.
Di situlah A.A. mulai belajar sesuatu yang tidak ada di buku pelajaran.
Mandiri.
Bukan teori mandiri.
Mandiri betulan.
Kalau ingin punya uang, bekerja.
Kalau ingin dimengerti, bicara.
Kalau punya masalah, cari jalan keluar.
Kalau salah, perbaiki.
Dan pelajaran paling penting:
tidak semua hal dalam hidup harus berjalan sesuai urutan yang dibuat orang lain.
Setahun berlalu.
A.A. seharusnya mengikuti jalur yang biasa.
SMA.
Lulus.
Dapat ijazah.
Kuliah.
Begitu urutannya.
Tetapi John Mohn melihat ada jalan lain.
Sebuah pilihan pendidikan yang tidak biasa.
A.A. mengikuti pilihan itu.
Dan sejak saat itulah jalur pendidikannya berubah.
Ia tidak kembali menjalani SMA seperti anak-anak Indonesia pada umumnya.
Ijazah SMA pun akhirnya tidak pernah dimilikinya.
Kalau cerita berhenti sampai di situ, mungkin terdengar seperti kisah tentang anak yang tidak lulus sekolah.
Padahal bukan itu ceritanya.
Ini cerita tentang seorang anak yang menemukan bahwa belajar tidak selalu berarti duduk di ruang kelas.
Ia belajar dari keluarga angkat.
Belajar dari koran.
Belajar dari pekerjaan.
Belajar dari budaya yang berbeda.
Belajar dari hidup sendirian.
Dan belajar mengambil keputusan.
Nilai ujian bisa hilang dari ingatan.
Pengalaman hidup biasanya tidak.
Dulu, ada guru yang pernah menulis satu kata di kertas ujiannya.
āMadesu.ā
Masa depan suram.
Mungkin gurunya tidak serius.
Mungkin hanya sindiran agar muridnya belajar lebih sungguh-sungguh.
Tetapi hidup punya cara sendiri untuk membalas sebuah ramalan.
Anak yang pernah diberi label āmasa depan suramā itu justru menemukan masa depannya.
Bukan lewat jalan yang lurus.
Melainkan lewat jalan yang berbelok.
Jauh.
Sampai Kansas.
Tentu kisah A.A. bukan berarti sekolah tidak penting.
Justru sebaliknya.
Pendidikan tetap penting.
Ijazah tetap penting.
Bagi banyak orang, pendidikan formal adalah jalan utama menuju masa depan.
Tetapi kehidupan tidak selalu menyediakan jalan yang sama untuk semua orang.
Ada yang lurus.
Ada yang berputar.
Ada yang mulus.
Ada yang penuh lubang.
Yang penting bukan sekadar jalannya.
Bersambung….
Tetapi apa yang dilakukan sepanjang perjalanan.
A.A. tidak pernah lulus SMA.
Itu fakta.
Tetapi ia juga tidak pernah berhenti belajar.
Mungkin itulah kesimpulan paling sederhananya.
Ijazah menunjukkan seseorang pernah menyelesaikan sebuah jenjang pendidikan. Pengalaman menunjukkan apa yang dilakukan seseorang setelah melewati kehidupan.
Dan bagi A.A., tidak memiliki ijazah SMA ternyata bukan akhir cerita.
Justru dari situlah cerita besarnya dimulai.
Tamat. (edy)
