JAKARTA, Katasulsel.com ā Setiap kali mendengar istilah geng motor, yang terbayang mungkin sekelompok anak muda berkonvoi di jalanan, saling tantang, atau terlibat tawuran.
Padahal, kalau ditarik jauh ke belakang, sejarah kelompok pengendara sepeda motor di Indonesia ternyata jauh lebih tua.
Jejaknya bahkan sudah muncul ketika Indonesia belum menjadi sebuah negara.
Tahun 1915 menjadi salah satu titik yang kerap disebut dalam sejarah awal perkumpulan pengendara motor di Hindia Belanda.
Di Batavia, yang kini dikenal sebagai Jakarta, muncul sebuah perkumpulan bernama Motorfiets Rijders Te Batavia.
Namanya memang terdengar seperti cikal bakal geng motor yang dikenal sekarang.
Tetapi konteksnya berbeda.
Perkumpulan tersebut pada awalnya merupakan komunitas para pemilik dan penggemar sepeda motor. Motor ketika itu masih menjadi barang yang relatif eksklusif dan belum menjadi kendaraan yang digunakan masyarakat secara luas.
Artinya, menyebut perkumpulan tersebut sebagai āgeng motorā dalam pengertian kriminal masa kini sebenarnya perlu hati-hati.
Dari sinilah cerita panjang komunitas sepeda motor di Indonesia bermula.
Dari Hobi ke Identitas Kelompok
Puluhan tahun kemudian, perkembangan sepeda motor semakin pesat.
Motor tidak lagi hanya menjadi kendaraan kalangan tertentu.
Ia masuk ke kehidupan masyarakat dan menjadi bagian dari gaya hidup anak muda.
Memasuki dekade 1970-an hingga 1980-an, Bandung menjadi salah satu kota yang dikenal dengan perkembangan komunitas dan klub motor anak muda.
Sejumlah nama kemudian muncul dan berkembang.
Moonraker, misalnya, dikenal berdiri pada 1978.
Beberapa tahun kemudian, XTC muncul pada 1982.
Pada fase awalnya, kelompok-kelompok tersebut tidak serta-merta identik dengan kriminalitas.
Ada unsur hobi otomotif, persahabatan, berkendara bersama dan identitas komunitas.
Namun, perjalanan waktu membawa cerita yang berbeda.
Ketika Komunitas Mulai Mendapat Cap āGengā
Gesekan antar kelompok, tawuran, kenakalan remaja hingga tindak kriminal yang melibatkan sebagian anggota kelompok membuat istilah āgeng motorā kemudian memiliki konotasi yang jauh lebih negatif.
Di titik inilah terjadi perubahan cara masyarakat memandang kelompok pengendara motor.
Motor yang semula identik dengan hobi dan kebebasan berkendara perlahan juga dikaitkan dengan konvoi, bentrokan dan kriminalitas jalanan.
Padahal, satu hal penting perlu dibedakan:
komunitas motor tidak otomatis sama dengan geng kriminal.
Ada klub yang aktivitasnya berfokus pada otomotif, kegiatan sosial, touring dan berbagai kegiatan positif lainnya.
Sebaliknya, ada pula kelompok yang menggunakan identitas kelompok untuk melakukan tindakan melanggar hukum.
Karena itu, perilaku anggotanya menjadi bagian penting dalam melihat sebuah kelompok.
Dari Jalanan ke Organisasi
Perjalanan sejumlah kelompok lama juga tidak berhenti pada citra masa lalu.
Sebagian kemudian berupaya melakukan perubahan dengan mengarahkan organisasi ke kegiatan sosial, kemasyarakatan dan aktivitas yang lebih terstruktur.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa sejarah komunitas motor di Indonesia tidak sesederhana cerita tentang āgeng motorā.
Ada perjalanan panjang dari komunitas penggemar kendaraan, kelompok anak muda, konflik antarkelompok, munculnya stigma, hingga upaya sebagian organisasi membangun kembali identitasnya.
Sementara itu, aparat kepolisian tetap menaruh perhatian terhadap kelompok-kelompok yang melakukan kekerasan atau kriminalitas di jalanan.
Sebab yang menjadi persoalan bukan motornya.
Bukan pula sekadar jaket komunitas atau nama kelompoknya.
Yang menjadi persoalan adalah ketika identitas kelompok digunakan untuk melakukan tindakan yang merugikan orang lain.
Sudah Lebih dari Satu Abad
Jika titik awal 1915 tersebut dijadikan pijakan, maka sejarah perkumpulan pengendara motor di Indonesia telah melewati lebih dari satu abad.
Dari Batavia hingga Bandung.
Dari perkumpulan pemilik motor hingga komunitas anak muda.
Dari hobi otomotif hingga identitas kelompok.
Dan pada akhirnya, muncul satu pelajaran sederhana:
sebuah komunitas tidak selamanya ditentukan oleh bagaimana ia dilahirkan, tetapi juga oleh ke mana ia membawa anggotanya.
Sebab sejarah sepeda motor di Indonesia bukan hanya tentang kendaraan.
Ia juga tentang perubahan gaya hidup, persahabatan, identitas anak muda, bahkan bagaimana sebuah kelompok bisa dipandang berbeda oleh masyarakat dari waktu ke waktu. (*)
