Kepulauan Selayar, Katasulsel.com ā Sebuah benda perunggu berbentuk menyerupai dandang terbalik tersimpan di Museum Nekara, Matalalang, Kelurahan Bontobangun, Kecamatan Bontoharu, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Benda itu dikenal sebagai Gong Nekara, peninggalan kuno yang menyimpan petunjuk tentang sejarah kebudayaan dan hubungan antardaerah pada masa lalu.
Nekara tersebut bukan sekadar benda koleksi museum. Bentuk, hiasan, dan bahan pembuatannya menjadikannya bagian penting dari kajian arkeologi mengenai kebudayaan perunggu di Asia Tenggara.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Selatan mencatat Gong Nekara Selayar sebagai benda berbahan perunggu yang berkaitan dengan kebudayaan Dong Son dari kawasan Vietnam utara. Dalam catatan tersebut, nekara disebut pernah digunakan untuk keperluan upacara dan sebagai genderang perang.
Benda Perunggu dengan Ukuran Besar
Gong Nekara Selayar memiliki bentuk menyerupai dandang terbalik. Catatan pemerintah daerah menyebut tinggi benda tersebut sekitar 95 sentimeter, dengan diameter permukaan sekitar 126 sentimeter.
Permukaannya dihiasi beragam motif, termasuk gambar bintang bersudut 16, gajah, pohon sirih, burung, dan ikan. Pada bagian atasnya terdapat empat ornamen berbentuk katak, sedangkan sisi tubuhnya dilengkapi empat bagian menyerupai pegangan.
Ragam hias tersebut menjadi bagian penting untuk mengkaji keterampilan pembuatnya dan tradisi budaya yang melatarbelakangi pembuatan nekara. Analisis lebih lanjut terhadap bentuk serta motifnya dapat membantu peneliti membandingkan benda tersebut dengan nekara lain yang ditemukan di Asia Tenggara.
Bagaimana Nekara Itu Ditemukan?
Riwayat penemuan Gong Nekara Selayar memiliki catatan yang berbeda. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Selayar, dalam artikel yang diterbitkan pada 2014, menyebut berdasarkan cerita lisan para tetua adat dan penduduk setempat, nekara ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang warga bernama Sabuna pada 1686 ketika sedang mengerjakan sawah di Kampung Rea-Rea.
Sementara itu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Selatan mencatat tahun penemuan 1868. Perbedaan ini menunjukkan perlunya penelusuran dokumen sejarah dan arkeologi untuk memastikan kronologi penemuannya.
Menurut catatan pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar, nekara tersebut kemudian dipindahkan ke Bontobangun pada 1760 dan menjadi kalompoang atau arajang, yakni benda pusaka yang memiliki kedudukan penting bagi Kerajaan Bontobangun.
Riwayat tersebut memperlihatkan bahwa nilai nekara bagi masyarakat setempat tidak hanya terletak pada usia dan bahannya. Benda itu juga memiliki kedudukan dalam tradisi serta sejarah kekuasaan lokal.
Jejak Kebudayaan Perunggu Asia Tenggara
Nekara merupakan salah satu jenis genderang perunggu yang dikenal dalam kebudayaan prasejarah Asia Tenggara. Museum Nasional Indonesia menjelaskan bahwa nekara ditemukan di berbagai wilayah Asia Tenggara dan kemungkinan pada awalnya memiliki nilai dalam pertukaran barang. Dalam perkembangannya, benda sejenis juga berkaitan dengan status sosial dan ritual.
Keterkaitan Gong Nekara Selayar dengan kebudayaan Dong Son menempatkan benda tersebut dalam pembahasan yang lebih luas mengenai persebaran teknologi perunggu dan hubungan antarmasyarakat di kawasan Asia Tenggara.
Namun, kesamaan bentuk atau motif tidak dengan sendirinya membuktikan jalur perdagangan tertentu. Untuk memastikan asal bahan, waktu pembuatan, dan jalur perpindahan nekara ke Selayar, diperlukan kajian arkeometri, perbandingan artefak, serta dokumen sejarah yang mendukung.
Karena itu, Gong Nekara Selayar penting bukan hanya sebagai benda kuno, tetapi juga sebagai objek penelitian yang dapat membantu menjelaskan hubungan kebudayaan antardaerah pada masa lampau.
Museum Nekara dan Upaya Pelestarian
Keberadaan Gong Nekara menjadi salah satu alasan penamaan Museum Nekara di Selayar. Berdasarkan profil resmi museum pada portal Kementerian Kebudayaan, museum tersebut didirikan pada 1980 dan dikelola Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar melalui dinas yang membidangi kebudayaan dan pariwisata.
Pada Agustus 2024, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Selayar menerima tim konservasi dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIX untuk melakukan konservasi koleksi Gong Nekara. Pemerintah daerah saat itu menyebut nekara berstatus Cagar Budaya tingkat Provinsi dan sedang diusulkan menjadi cagar budaya tingkat nasional.
Upaya konservasi diperlukan untuk menjaga kondisi fisik benda sekaligus memastikan warisan sejarah tersebut dapat terus dipelajari oleh peneliti dan masyarakat.
Bagi Kepulauan Selayar, Gong Nekara menyimpan dua lapisan sejarah: jejak kebudayaan perunggu yang lebih luas di Asia Tenggara dan kisah lokal tentang kedudukan benda itu dalam tradisi Kerajaan Bontobangun.7 Keduanya menjadikan nekara ini penting untuk terus diteliti, dirawat, dan diperkenalkan kepada generasi berikutnya.
