Baubau, Katasulsel.com β Dinding batu karang membentang mengikuti kontur bukit di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara. Di balik susunan batu itu, Benteng Keraton Buton menyimpan jejak sebuah kesultanan yang pernah menjadikan kawasan tersebut sebagai pusat pemerintahan, pertahanan, sekaligus permukiman bangsawan.
Benteng yang juga dikenal sebagai Benteng Wolio itu bukan sekadar bangunan pertahanan. Di dalam kawasannya terdapat sejumlah peninggalan sejarah, termasuk masjid, makam sultan, rumah adat, meriam, dan berbagai struktur yang berkaitan dengan kehidupan Kesultanan Buton.
Berdasarkan data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Benteng Keraton Buton ditetapkan sebagai cagar budaya peringkat nasional pada 4 Maret 2003. Lokasinya berada di Kelurahan Melai, Kota Baubau, Provinsi Sulawesi Tenggara.
Benteng yang Mengikuti Kontur Bukit
Benteng Keraton Buton dibangun menggunakan batu karang yang disusun mengikuti bentuk lahan. Susunan dindingnya menyesuaikan kontur bukit, sehingga ketinggian benteng berbeda-beda pada sejumlah bagian.
Kajian arkeologi yang diterbitkan dalam Buletin Somba Opu mencatat panjang dinding benteng sekitar 2.740 meter, dengan ketebalan sekitar 1β2 meter dan tinggi berkisar 2β8 meter. Bentuknya mengikuti bentang lahan dan menyerupai huruf βdalβ dalam aksara Arab.
Posisi benteng di atas bukit turut mendukung fungsi pertahanannya. Dari kawasan tersebut, lingkungan sekitar dan jalur perairan di sekitar Baubau dapat diamati dari ketinggian.
Benteng ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Buton pada masa lalu memanfaatkan kondisi geografis untuk membangun sistem pertahanan. Pemilihan lokasi, bahan bangunan, dan bentuk dinding menjadi bagian dari strategi untuk melindungi pusat kekuasaan.
Pusat Pertahanan dan Pemerintahan Kesultanan
Benteng Keraton Buton memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar tembok pelindung. Kawasan ini pernah menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Buton dan tempat tinggal kelompok bangsawan, termasuk golongan kaomu dan walaka.
Kajian mengenai sumber daya budaya di Kompleks Benteng Keraton Wolio mencatat sejumlah tinggalan yang masih dapat dijumpai di dalam kawasan, seperti masjid, rumah sultan atau kamali, makam sultan, batu pelantikan, baruga, tiang bendera, jangkar kapal, dan meriam. Sebagian kawasan juga tetap menjadi permukiman warga hingga sekarang.
Keberadaan berbagai tinggalan tersebut memperlihatkan bahwa benteng merupakan ruang kehidupan masyarakat, bukan kawasan militer yang terpisah dari aktivitas sehari-hari. Pemerintahan, kegiatan keagamaan, kehidupan sosial, dan tradisi kesultanan berkembang dalam satu kawasan.
Karena itu, memahami Benteng Keraton Buton juga berarti memahami bagaimana pusat kekuasaan lokal dibangun dan dijalankan pada masa lalu.
Berapa Luas Benteng Keraton Buton?
Benteng Keraton Buton dikenal luas karena ukurannya. Data atraksi wisata Kementerian Pariwisata mencatat luas kawasan benteng sekitar 23,375 hektare dengan keliling dinding mencapai 2.740 meter.
Pada 2006, benteng ini mendapat pengakuan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) dan Guinness Book of World Records sebagai benteng pertahanan terluas di dunia. Informasi mengenai ukuran dan pengakuan tersebut juga dimuat dalam pemberitaan ANTARA.
Meski kerap disebut sebagai benteng terluas di dunia, klaim tersebut sebaiknya disertai konteks sumber pengakuannya. Ukuran kawasan dan panjang dinding merupakan data yang lebih konkret untuk menggambarkan skala bangunan bersejarah ini.
Benteng tersebut menjadi salah satu penanda penting sejarah Kota Baubau dan warisan Kesultanan Buton di Sulawesi Tenggara.
Warisan Sejarah yang Tetap Hidup
Benteng Keraton Buton bukan hanya menyimpan sisa bangunan masa lalu. Kawasannya masih berkaitan dengan kehidupan masyarakat setempat, sementara sejumlah peninggalan di dalamnya menjadi sumber informasi bagi penelitian sejarah dan arkeologi.
Namun, perubahan kawasan juga menjadi tantangan dalam pelestarian. Artikel dalam Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur menguraikan perubahan pada lahan dan bangunan di kompleks benteng, termasuk akibat perluasan permukiman, pertanian, pemakaman, modernisasi, dan kebijakan pemerintah. Kajian tersebut menekankan pentingnya perlindungan dan pengaturan zonasi agar pemanfaatan kawasan tetap memperhatikan nilai sejarahnya.
Sebagai cagar budaya peringkat nasional, Benteng Keraton Buton menyimpan bukti tentang kemampuan masyarakat masa lalu membangun pusat pertahanan sekaligus menata kehidupan dalam lingkungan kesultanan.
Dinding batu karang yang masih berdiri hingga kini menjadi bagian dari warisan tersebut. Di dalam kawasan inilah jejak pemerintahan, tradisi, dan kehidupan masyarakat Buton dapat ditelusuri melalui bangunan serta tinggalan sejarah yang tersisa.
