Kepulauan Selayar, Katasulsel.com – Sebuah benda perunggu yang ditemukan saat seorang petani menggarap lahan di Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, kemudian menjadi pusaka kerajaan. Benda itu dikenal sebagai Gong Nekara Selayar, peninggalan arkeologis yang menyimpan jejak kebudayaan masa perunggu sekaligus cerita panjang tentang sejarah lokal.

Menurut catatan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Selayar, nekara tersebut ditemukan oleh seorang warga Kampung Rea-Rea bernama Sabuna ketika menggarap lahan milik Raja Putabangun di Papaniohea. Kisah penemuan itu dicatat berdasarkan informasi lisan dari tetua adat dan penduduk setempat.

Dalam riwayat yang sama, nekara kemudian dipindahkan ke Bontobangun pada 1760 dan menjadi kalompoang atau arajang, yakni benda pusaka yang dikeramatkan oleh kerajaan. Ketika pusat kekuasaan berpindah, benda tersebut tetap dipertahankan sebagai bagian dari warisan kerajaan.

Namun, tahun penemuan nekara belum memiliki satu versi yang konsisten. Situs resmi pariwisata Kabupaten Kepulauan Selayar mencatat tahun 1686 berdasarkan cerita lisan, sedangkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan menyebut 1868. Karena terdapat perbedaan dalam sumber pemerintah, kronologi penemuan perlu dibaca dengan hati-hati.

Empat Arca Katak yang Menjadi Ciri Khas

Gong Nekara Selayar berbentuk menyerupai dandang terbalik. Benda berbahan perunggu ini memiliki tinggi sekitar 92 sentimeter dan diameter bidang pukul sekitar 126 sentimeter, berdasarkan laporan Kompas.id pada 2018.

Keunikan lainnya terdapat pada ragam hias yang memenuhi permukaan nekara. Catatan pemerintah daerah menyebut terdapat 16 motif gajah, 54 burung, 11 pohon sirih, dan 18 ikan. Pada bagian atasnya terdapat empat arca berbentuk katak, sedangkan bagian samping memiliki empat tonjolan menyerupai daun telinga yang berfungsi sebagai pegangan.

Ragam hias tersebut menjadi petunjuk penting bagi kajian arkeologi. Bentuk, teknik pengerjaan, dan motifnya menunjukkan ciri nekara tipe Heger I yang memiliki kaitan dengan kebudayaan Dong Son, tradisi pengerjaan perunggu yang berkembang di wilayah Vietnam utara dan berpengaruh dalam kajian kebudayaan prasejarah Asia Tenggara.

Penelitian arkeologi tentang Nekara Selayar juga menempatkannya dalam konteks persebaran teknologi perunggu dan hubungan antarkawasan melalui jalur pelayaran. Meski demikian, asal-usul benda dan jalur perpindahannya tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan motif. Kesimpulan yang lebih rinci memerlukan dukungan kajian arkeologis dan bukti sejarah.

Mengapa Nekara Ini Penting bagi Sejarah Selayar?

Nekara bukan sekadar alat musik seperti gong yang dikenal sekarang. Dalam berbagai kebudayaan Asia Tenggara, benda sejenis dapat berkaitan dengan upacara, kekuasaan, komunikasi, dan status sosial. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan juga mencatat kaitan Gong Nekara Selayar dengan upacara kerajaan dan ritual meminta hujan.

Dalam konteks Selayar, perubahan statusnya menjadi pusaka kerajaan menunjukkan bahwa benda tersebut memiliki makna lebih dari nilai material. Nekara menjadi bagian dari ingatan politik dan kebudayaan masyarakat setempat, meskipun fungsi spesifiknya pada setiap periode perlu dibedakan antara catatan sejarah, tradisi lisan, dan hasil penelitian.

Keberadaan nekara juga menarik karena Selayar berada di kawasan kepulauan yang terhubung dengan aktivitas pelayaran. Dalam artikel ā€œNekara Kuno Ribuan Tahun, Jejak Dagang di Selayarā€ yang terbit di Kompas.id pada 2018, nekara dibahas sebagai salah satu petunjuk untuk memahami hubungan Selayar dengan jaringan perdagangan dan kebudayaan yang lebih luas.

Hubungan itu tidak berarti semua detail perjalanan nekara telah diketahui. Namun, artefak tersebut memberi dasar untuk menelusuri bagaimana benda, teknologi, dan tradisi bergerak antarkawasan pada masa lampau.

Warisan yang Perlu Dijaga dan Diteliti

Saat ini, Gong Nekara disimpan di kawasan Matalalang, Kelurahan Bontobangun, Kecamatan Bontoharu, Kabupaten Kepulauan Selayar. Benda tersebut menjadi salah satu ikon budaya daerah dan bagian penting dari upaya mengenalkan sejarah Selayar kepada masyarakat.

Nilai sejarahnya tidak hanya terletak pada usia atau ukurannya. Nekara ini menyimpan beberapa lapisan cerita: tradisi lisan mengenai penemuannya, riwayatnya sebagai pusaka kerajaan, ciri arkeologis yang menghubungkannya dengan kebudayaan Dong Son, serta posisi Selayar dalam pembahasan sejarah pelayaran Asia Tenggara.

Karena itu, penyajian sejarah Gong Nekara perlu disertai informasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Perbedaan kronologi penemuan, misalnya, menjadi alasan penting untuk terus menelusuri sumber sejarah dan memperjelas mana yang berasal dari tradisi lisan dan mana yang didukung bukti tertulis.

Dari lahan yang digarap seorang petani hingga menjadi pusaka kerajaan, Gong Nekara Selayar memperlihatkan bagaimana sebuah benda dapat bertahan melampaui zamannya. Kini, peninggalan tersebut bukan hanya bagian dari kebanggaan daerah, melainkan juga sumber pengetahuan untuk membaca hubungan Selayar dengan sejarah kebudayaan yang lebih luas.

K
Katasulsel.com
Ikuti kami di media sosial
Berita terbaru Katasulsel juga hadir di Instagram dan TikTok.
Follow Katasulsel untuk update berita terbaru