Kepulauan Selayar, Katasulsel.com – Di tengah Laut Flores, wilayah Kabupaten Kepulauan Selayar menyimpan bentang laut yang ukurannya sulit dibayangkan. Namanya Taka Bonerate, kawasan atol yang terbentuk dari gugusan terumbu karang, pulau-pulau kecil, gosong karang, dan perairan dangkal.
Taka Bonerate dikenal sebagai atol terbesar di Indonesia dan terluas di Asia Tenggara, sementara secara global berada di urutan ketiga setelah Kwajalein di Kepulauan Marshall dan Suvadiva di Maladewa. Luas atolnya mencapai sekitar 220 ribu hektare.
Kawasan tersebut kemudian ditetapkan sebagai Taman Nasional Taka Bonerate dengan luas keseluruhan 530.765 hektare. Wilayahnya berada di Kecamatan Taka Bonerate, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.
Apa Itu Atol?
Atol berbeda dengan pulau biasa.
Atol merupakan bentukan terumbu karang yang berkembang membentuk lingkaran atau cincin, dengan laguna atau perairan di bagian tengahnya. Di Taka Bonerate, bentang tersebut terlihat dalam bentuk rataan terumbu yang luas, pulau-pulau kecil, serta perairan dangkal yang mengelilinginya.
Ketika air laut surut, sebagian rataan terumbu bahkan dapat terlihat seperti daratan yang terputus-putus oleh genangan air.
Profil resmi Taman Nasional Taka Bonerate mencatat kedalaman perairannya sangat beragam. Di bagian rataan terumbu kedalamannya sekitar 2 hingga 3 meter, sementara bagian tertentu dapat mencapai sekitar 200 meter.
Perbedaan kedalaman itu membuat lanskap bawah laut Taka Bonerate tidak seragam.
Ada perairan dangkal, laguna, dinding karang, hingga laut yang jauh lebih dalam.
Nama Taka Bonerate Berasal dari Bentang Karangnya
Nama Taka Bonerate berkaitan dengan karakter kawasan tersebut.
Istilah ini kerap diterjemahkan sebagai hamparan karang di atas pasir. Nama tersebut menggambarkan bentang alam yang menjadi ciri utama kawasan.
Taka Bonerate bukan satu pulau besar yang berdiri sendiri.
Kawasan ini merupakan sistem kepulauan dan terumbu yang saling berhubungan. Dokumen Balai Taman Nasional mencatat terdapat 15 pulau di kawasan taman nasional, sementara profil kawasan juga menggambarkan keberadaan gugusan pulau, gosong karang, rataan terumbu, dan selat-selat yang membentuk sistem atol.
Laut yang Menjadi Rumah Beragam Biota
Ukuran atol bukan satu-satunya alasan Taka Bonerate penting.
Kawasan ini memiliki keanekaragaman hayati laut yang tinggi. Terumbu karangnya menjadi habitat bagi berbagai jenis ikan dan organisme laut, termasuk sejumlah spesies yang dilindungi.
Data resmi Kementerian Kehutanan menyebut keberadaan antara lain kerapu, cakalang, napoleon wrasse, baronang, kima, lola, triton, kerang mutiara, hingga berbagai jenis moluska dan biota laut lainnya.
Taka Bonerate juga menjadi habitat bagi penyu hijau dan penyu sisik. Penyu hijau tercatat sebagai salah satu spesies mandat konservasi kawasan tersebut.
Dengan kondisi itu, laut Taka Bonerate bukan sekadar ruang wisata.
Ia merupakan ekosistem yang menopang kehidupan berbagai spesies.
Tinabo dan Hiu-Hiu Kecil
Salah satu lokasi yang paling dikenal wisatawan di Taka Bonerate adalah Pulau Tinabo.
Pulau ini terkenal dengan perairannya yang menjadi habitat bagi anak-anak hiu jenis blacktip reef shark. Kehadiran hiu-hiu muda tersebut menjadi salah satu daya tarik wisata bahari Taka Bonerate.
Pengunjung dapat menikmati aktivitas seperti snorkeling dan menyelam di sekitar kawasan, dengan tetap mengikuti ketentuan dan pendampingan pengelola.
Selain Tinabo, kawasan Taka Bonerate memiliki sejumlah titik penyelaman yang memperlihatkan karakter terumbu dan biota laut yang berbeda-beda.
Bukan Sekadar Tempat Menyelam
Taka Bonerate memang dikenal di kalangan pencinta wisata bawah laut.
Namun, kehidupan kawasan ini tidak berhenti pada aktivitas wisata.
Sejumlah pulau di dalam kawasan taman nasional dihuni masyarakat. Kehidupan mereka berkaitan erat dengan laut, terutama melalui perikanan.
Karena itu, pengelolaan Taka Bonerate juga menyentuh persoalan pemanfaatan sumber daya laut oleh masyarakat.
Balai Taman Nasional Taka Bonerate bersama berbagai pihak telah menjalankan program kemitraan konservasi dan mendorong praktik perikanan yang berkelanjutan. Pada 2025, Balai TN Taka Bonerate juga memperkuat kerja sama dengan Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Selayar dalam pemberdayaan masyarakat dan pengelolaan sumber daya perikanan.
Dari Cagar Alam hingga Taman Nasional
Perlindungan terhadap Taka Bonerate bukan sesuatu yang baru.
Kawasan ini pertama kali ditetapkan sebagai cagar alam laut pada 1989. Statusnya kemudian berubah menjadi taman nasional pada 1992 sebelum ditetapkan secara resmi melalui SK Menteri Kehutanan Nomor 92/KPTS-II/2001 dengan luas 530.765 hektare.
Status konservasi tersebut menunjukkan bahwa nilai Taka Bonerate tidak hanya terletak pada potensi wisatanya.
Ekosistem lautnya dianggap penting untuk penelitian, pendidikan, konservasi, dan pemanfaatan yang tetap memperhatikan keberlanjutan.
Taka Bonerate Masuk Jaringan Cagar Biosfer UNESCO
Nilai ekologis Taka Bonerate juga mendapat pengakuan internasional.
Pada 2015, kawasan Taka Bonerate menjadi bagian inti dari Cagar Biosfer Taka Bonerate-Kepulauan Selayar yang ditetapkan UNESCO melalui program Man and the Biosphere (MAB). Kawasan cagar biosfer tersebut mencakup wilayah yang lebih luas daripada taman nasionalnya.
Status ini menempatkan Selayar dalam jaringan kawasan yang menggabungkan kepentingan konservasi dengan kehidupan masyarakat dan pembangunan berkelanjutan.
Dengan kata lain, Taka Bonerate tidak hanya dilihat sebagai laut yang perlu dilindungi.
Kawasan ini juga merupakan ruang hidup masyarakat.
Tantangan Menjaga Atol yang Sangat Luas
Semakin luas kawasan yang harus dilindungi, semakin kompleks pula pengelolaannya.
Taka Bonerate menghadapi persoalan yang juga dihadapi banyak kawasan laut, mulai dari tekanan terhadap terumbu karang hingga kebutuhan masyarakat untuk tetap memperoleh penghidupan dari sumber daya laut.
Karena itu, konservasi tidak cukup dilakukan dengan membatasi aktivitas manusia.
Masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar kawasan juga perlu dilibatkan dalam pengelolaan. Pendekatan tersebut terlihat dalam program kemitraan konservasi dan penguatan perikanan berkelanjutan yang dilakukan Balai TN Taka Bonerate bersama masyarakat dan berbagai pihak.
Di situlah masa depan Taka Bonerate ditentukan.
Atol yang luas tidak akan bertahan hanya karena statusnya sebagai taman nasional. Ekosistemnya bergantung pada bagaimana laut dimanfaatkan, bagaimana masyarakat dilibatkan, dan bagaimana terumbu karang serta biota di dalamnya dijaga.
Atol Besar yang Berada di Ujung Selatan Sulawesi
Taka Bonerate memperlihatkan wajah lain Kepulauan Selayar.
Kabupaten ini tidak hanya memiliki pantai dan pulau-pulau kecil, tetapi juga sebuah sistem atol raksasa yang terbentuk melalui proses alam dalam waktu yang sangat panjang.
Sekitar 220 ribu hektare bentang atol, ratusan ribu hektare kawasan taman nasional, terumbu karang, pulau-pulau kecil, laguna, serta kehidupan masyarakat pesisir menyatu dalam satu kawasan.
Di peta, Taka Bonerate mungkin terlihat seperti gugusan titik kecil di Laut Flores.
Di bawah permukaannya, terdapat ekosistem laut yang jauh lebih luas daripada yang terlihat dari daratan.
