Kepulauan Selayar, Katasulsel.com – Jauh sebelum logam menjadi bahan utama pembuatan alat tangkap, manusia yang hidup di Pulau Selayar telah memanfaatkan sumber daya laut untuk membuat perkakas. Jejaknya ditemukan dalam bentuk mata pancing, alat pengikis, dan alat bergerigi yang dibuat dari cangkang kerang di sebuah gua karst di pulau tersebut.
Temuan itu dibahas dalam penelitian internasional yang terbit pada September 2026 di jurnal Quaternary Science Advances. Penelitian berjudul Shell Fishhooks, Shell Tools and Maritime Adaptation in West Wallacea: New Evidences from Selayar Island, Indonesia melibatkan peneliti dari Universitas Hasanuddin (Unhas), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta sejumlah lembaga riset internasional.
Cangkang kerang kerap dianggap sebagai sisa konsumsi manusia masa lalu. Namun, dalam konteks arkeologi, cangkang juga dapat menunjukkan kemampuan manusia mengolah bahan alam menjadi perkakas.
Cangkang Kerang Bukan Sekadar Sisa Makanan
Penelitian tersebut mengidentifikasi tiga kelompok temuan utama, yakni mata pancing dari cangkang, alat pengikis, dan alat bergerigi. Bentuk serta teknik pengerjaannya menjadi petunjuk bahwa manusia pada masa itu tidak hanya mengumpulkan sumber daya laut, tetapi juga mengolahnya menjadi alat yang memiliki fungsi tertentu.
Temuan tersebut penting karena bukti penggunaan alat dari cangkang laut sebelumnya lebih banyak diketahui dari kawasan Wallacea bagian selatan dan timur. Di wilayah Wallacea barat, bukti sejenis masih terbatas. Penelitian di Selayar memperluas pemahaman tentang cara manusia prasejarah memanfaatkan laut dan menyesuaikan diri dengan lingkungan kepulauan.
Mata pancing menunjukkan pemanfaatan teknologi untuk menangkap ikan. Sementara itu, alat pengikis dan benda bergerigi dapat memberikan informasi tentang ragam aktivitas manusia, meskipun fungsi setiap artefak tetap perlu ditafsirkan berdasarkan bentuk, jejak pengerjaan, dan konteks penemuannya.
Mengapa Manusia Prasejarah Memanfaatkan Cangkang?
Peneliti menilai temuan tersebut sebagai bukti penting penggunaan sumber daya laut secara intensif di kawasan Selayar. Kesimpulan itu didasarkan pada analisis teknologi artefak dan perbandingan dengan temuan dari wilayah lain di Asia maritim.
Lingkungan pulau memiliki tantangan tersendiri. Ketersediaan sumber daya daratan tidak selalu sama dengan wilayah yang lebih luas, sehingga laut dapat menjadi sumber penting bagi kebutuhan hidup.
Dalam penelitian tersebut, para penulis membahas dua kemungkinan untuk menjelaskan perbedaan persebaran mata pancing cangkang di Wallacea. Pertama, perbedaan teknologi atau tradisi budaya antarkelompok manusia. Kedua, perbedaan kondisi lingkungan, termasuk luas pulau dan melimpah atau terbatasnya sumber daya daratan.
Analisis artefak dari Selayar lebih mendukung kemungkinan kedua, yakni lingkungan ikut memengaruhi cara manusia memanfaatkan sumber daya. Meski demikian, penelitian tersebut tidak menyatakan bahwa faktor lingkungan merupakan satu-satunya penjelasan bagi seluruh perbedaan teknologi antarpulau.
Temuan ini menunjukkan bahwa teknologi manusia prasejarah berkembang melalui interaksi dengan lingkungan. Bahan yang tersedia di sekitar tempat tinggal dapat memengaruhi pilihan material, cara membuat alat, dan strategi memenuhi kebutuhan hidup.
Selayar dalam Peta Penelitian Bahari Prasejarah
Secara geografis, Selayar berada di antara daratan Sulawesi dan kawasan kepulauan yang mengarah ke Nusa Tenggara. Posisi tersebut membuat pulau ini relevan untuk mengkaji kehidupan manusia di wilayah kepulauan dan hubungan mereka dengan laut.
Dalam kajian arkeologi, Wallacea merupakan kawasan penting untuk memahami adaptasi manusia modern (Homo sapiens) pada masa Pleistosen Akhir dan Holosen Awal. Bukti penggunaan alat dari cangkang memberikan tambahan data untuk membandingkan teknologi dan pemanfaatan sumber daya laut antarpulau.
Penelitian yang diterbitkan pada September 2026 tersebut tidak sekadar mencatat keberadaan benda kuno. Analisisnya menempatkan artefak Selayar dalam pembahasan lebih luas tentang teknologi, migrasi manusia, dan adaptasi bahari di Asia Tenggara.
Namun, keberadaan mata pancing dari cangkang tidak dengan sendirinya membuktikan adanya satu jaringan pelayaran tertentu atau hubungan langsung antara seluruh kelompok manusia yang menggunakan alat serupa. Pertanyaan mengenai perpindahan manusia dan penyebaran teknologi perlu dijawab melalui perbandingan bukti arkeologi, kronologi, dan lingkungan.
Bagi Selayar, penelitian ini menambah satu lapisan penting dalam sejarahnya sebagai wilayah kepulauan. Jauh sebelum perahu modern dan pelabuhan berkembang, sumber daya laut sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia yang meninggalkan jejak di gua-gua karst pulau tersebut.
