Makassar, Katasulsel.com – Sulawesi Selatan pernah memiliki jalur kereta api yang menghubungkan Makassar dengan Takalar. Panjangnya sekitar 47 kilometer, melewati kawasan permukiman dan daerah penghasil komoditas pertanian. Namun, layanan yang dibuka pada 1922 itu hanya bertahan hingga 1930.

Ada sisi lain dari sejarah jalur tersebut yang jarang dibicarakan. Kereta api Makassar–Takalar bukan semata-mata dibangun untuk mengangkut beras, kopra, dan gula. Penelitian sejarah Universitas Negeri Makassar (UNM) mencatat jalur ini juga berkaitan dengan kepentingan militer pemerintah Hindia Belanda, termasuk pengangkutan serdadu untuk menghadapi gerakan I Tolok Dg. Magassing di Polongbangkeng, Takalar.

Temuan itu mengubah cara membaca sejarah kereta api di Sulawesi Selatan. Di balik rel yang menghubungkan pusat perdagangan dengan daerah penghasil komoditas, terdapat kepentingan kolonial untuk memperlancar pergerakan barang sekaligus pasukan.

Rencana Awalnya Mengarah ke Maros

Gagasan membangun jaringan kereta api di Sulawesi Selatan telah muncul sebelum jalur Makassar–Takalar beroperasi. Pemerintah Hindia Belanda melihat potensi hasil bumi di wilayah ini sebagai alasan untuk mengembangkan transportasi yang mampu mengangkut komoditas dalam jumlah besar.

Rancangan awal jalur Makassar–Maros selesai pada 1918. Rencana pengembangan jaringan kereta api kemudian mencakup wilayah lain, tetapi tidak semuanya terealisasi.

Dalam perkembangannya, arah pembangunan berubah menuju Takalar. Gowa dan Takalar dikenal sebagai daerah penghasil komoditas yang memiliki nilai jual, termasuk kopra, gula, dan beras.

Perubahan rute tersebut tidak hanya didorong pertimbangan ekonomi. Penelitian Fadli Nasrul, Najamuddin, dan Asmunandar yang diterbitkan dalam jurnal Pattingalloang pada 2018 menjelaskan bahwa situasi politik dan kebutuhan militer Belanda turut memengaruhi keputusan tersebut.

Rel Kereta untuk Menghadapi Perlawanan di Takalar

Salah satu konteks penting pembangunan jalur ini adalah gerakan I Tolok Dg. Magassing di Polongbangkeng. Menurut penelitian Nasrul dan rekan-rekannya, kereta api digunakan untuk mengangkut serdadu Belanda dalam upaya menghadapi gerakan tersebut.

Catatan ini memperlihatkan bahwa infrastruktur transportasi kolonial memiliki fungsi lebih luas daripada pelayanan perjalanan. Jalur yang menghubungkan Makassar dan Takalar juga membantu pemerintah kolonial menggerakkan pasukan menuju wilayah yang dianggap perlu dikendalikan.

Dalam sejumlah tulisan sejarah, gerakan I Tolok Dg. Magassing disebut sebagai gerakan perbanditan. Istilah itu perlu dibaca dengan memperhatikan konteks sumber dan sudut pandang pemerintah kolonial. Pelabelan tersebut tidak dengan sendirinya menjelaskan seluruh latar belakang gerakan maupun pandangan masyarakat setempat.

Kepentingan militer ini menjadi salah satu sisi penting sejarah kereta api Makassar–Takalar. Pembangunan rel bukan keputusan yang berdiri sendiri, melainkan berkaitan dengan cara pemerintah kolonial mengelola ekonomi dan mempertahankan kekuasaannya.

Dua Puluh Pemberhentian dalam Jalur 47 Kilometer

Jalur Makassar–Takalar memiliki 20 titik pemberhentian resmi, terdiri atas delapan halte utama dan 12 tempat pemberhentian yang disebut stopplaats dalam dokumen Belanda.

Lintasan dimulai dari Pasar Butung di Makassar, melewati kawasan Saddang, Mamajang, Jongaya, Mallengkeri, dan Sungguminasa. Kereta kemudian melintasi sejumlah wilayah lain, termasuk Limbung, Palléko, Mannongkoki, dan Pattallassang, sebelum mencapai Takalar.

Nama-nama tersebut tercatat dalam peta dan dokumen lama. Sebagian menggunakan ejaan kolonial sehingga pencocokan dengan lokasi sekarang perlu dilakukan secara hati-hati.

Jaringan pemberhentian itu memperlihatkan bahwa kereta api menghubungkan lebih dari dua kota di ujung jalur. Lintasannya menjangkau kawasan permukiman dan daerah produksi yang dapat memanfaatkan kereta untuk perjalanan maupun pengangkutan barang.

Penelitian yang sama mencatat tujuh lokomotif pernah dioperasikan pada jalur tersebut. Angka itu memberikan gambaran tentang skala layanan kereta api yang pernah hadir di Sulawesi Selatan pada masa kolonial.

Delapan Tahun Kemudian, Operasi Dihentikan

Kereta api Makassar–Takalar tidak bertahan lama. Setelah beroperasi sejak 1922, layanan tersebut berakhir pada 1930.

Penelitian sejarah yang diterbitkan UNM membahas jalur ini dalam periode 1922–1930. Sementara itu, laporan detikSulsel yang merujuk kajian sejarah menyebut penghentian subsidi dari jawatan kereta api pemerintah Hindia Belanda sebagai salah satu penyebab jalur itu tidak lagi beroperasi. Keputusan tersebut berlangsung di tengah tekanan ekonomi setelah Depresi Besar pada 1929.

Penghentian subsidi membuat keberlanjutan operasional semakin sulit. Jalur yang sebelumnya dibangun untuk mendukung kepentingan ekonomi dan politik kolonial itu akhirnya tidak dipertahankan.

Rencana jaringan kereta api yang lebih luas di Sulawesi Selatan pun tidak terwujud sebagaimana yang pernah dirancang. Makassar–Takalar menjadi salah satu jalur kereta api kolonial yang berumur pendek, tetapi meninggalkan catatan tentang hubungan antara transportasi, perdagangan, dan kekuasaan.

K
Katasulsel.com
Ikuti kami di media sosial
Berita terbaru Katasulsel juga hadir di Instagram dan TikTok.
Follow Katasulsel untuk update berita terbaru