Kepulauan Selayar, Katasulsel.com – Jika melihat roti eja untuk pertama kali, warna merah kecokelatannya mungkin lebih dulu menarik perhatian. Bentuknya pun tidak seperti roti pada umumnya. Penganan ini merupakan salah satu kue tradisional yang dikenal di Kepulauan Selayar dan telah lama dijual di pasar serta warung masyarakat.
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kepulauan Selayar mencatat roti eja sebagai salah satu jajanan pasar khas daerah tersebut. Kue ini dibuat dari tepung beras dan gula merah, kemudian dipanggang. Pada bagian atasnya, roti eja biasanya diberi taburan potongan kenari.
Warna merah kecokelatan pada roti eja berasal dari penggunaan gula merah. Rasa manisnya berpadu dengan gurih kenari yang menjadi salah satu bahan yang cukup dikenal dalam panganan tradisional Selayar.
Roti Eja Berarti Roti Merah
Nama roti eja juga berkaitan dengan warna yang menjadi ciri khasnya.
Dalam sebuah tulisan kuliner yang mengutip penggunaan bahasa lokal Selayar, eja dijelaskan berarti merah. Karena itu, roti eja dapat dipahami sebagai roti merah dalam penyebutan masyarakat setempat.
Penyebutannya memang sedikit mengecoh bagi orang yang baru mengenalnya. Kata βrotiβ biasanya membawa bayangan pada makanan berbahan tepung terigu dengan tekstur mengembang. Roti eja justru lebih menyerupai kue tradisional dengan tekstur kenyal dan warna merah kecokelatan.
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kepulauan Selayar mencatat bahwa roti eja dibuat dari tepung beras dan gula merah. Setelah adonan disiapkan, kue dipanggang hingga matang. Di bagian atasnya ditambahkan potongan kenari.
Dipanggang dengan Cara Tradisional
Ada bagian lain yang membuat roti eja menarik, yakni cara memasaknya.
Selain menggunakan oven, roti eja secara tradisional dapat dipanggang menggunakan belanga. Sumber dari Dinas Pariwisata Selayar menyebut proses pemanggangan sebagai bagian dari pembuatan kue tersebut. Sementara laporan kuliner pada 2026 mencatat penggunaan belanga tanah liat dan arang masih dijumpai dalam pembuatan roti eja.
Teknik tersebut memberikan karakter tersendiri pada kue. Adonan tepung beras dan gula merah berubah menjadi penganan berwarna merah kecokelatan dengan tekstur yang tidak menyerupai roti modern.
Di atasnya, potongan kenari menambah rasa gurih. Penggunaan kenari juga tidak berdiri sendiri dalam kuliner Selayar. Dinas Pariwisata setempat mencatat kenari sebagai salah satu bahan yang banyak digunakan dalam panganan tradisional daerah tersebut, termasuk tenteng kenari.
Roti Eja dan Pasar di Kota Benteng
Roti eja memiliki tempat dalam kehidupan kuliner masyarakat di Kota Benteng.
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kepulauan Selayar menyebut roti eja dapat ditemukan di pasar dan warung-warung kecil di Benteng. Kue ini juga dikenal memiliki daya simpan yang relatif lama, sekitar satu minggu, sehingga dapat dibawa sebagai oleh-oleh.
Laporan pada April 2026 juga menyebut roti eja masih mudah ditemukan di Benteng, termasuk di pasar tradisional, warung kecil, atau gadde-gadde.
Keberadaan roti eja di tempat-tempat tersebut membuatnya berbeda dari panganan yang hanya muncul ketika ada perayaan tertentu. Kue ini berada dalam keseharian masyarakat, berdampingan dengan jajanan pasar lain yang dijual sejak pagi.
Kenari di Atas Kue, Jejak Pangan Lokal Selayar
Kenari menjadi salah satu penanda penting dalam panganan tradisional Kepulauan Selayar.
Dinas Pariwisata Selayar mencatat penggunaan kenari pada sejumlah penganan lokal. Salah satunya roti eja yang diberi taburan kenari, sementara tenteng kenari menjadikan biji tersebut sebagai bahan utama.
Pada roti eja, kenari tidak menjadi bahan utama adonan. Potongan kecilnya diletakkan di bagian atas kue sehingga memberikan rasa gurih pada penganan yang didominasi rasa manis gula merah.
Kini roti eja masih dapat dijumpai di Benteng dan pasar tradisional Selayar. Warnanya tetap merah kecokelatan, bagian atasnya dihiasi kenari, sementara proses pembuatannya masih mengenal cara panggang tradisional yang diwariskan dalam kuliner masyarakat setempat.
