Sidrap, katasulsel.com β€” Dari kampus daerah, langkahnya menembus Jepang.

Nama Hikmaya, S.P. kini menjadi perbincangan di lingkungan akademik. Alumni Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang (UMS) ini berhasil lolos program student exchange SUIJI ke Kochi University.

Sebuah capaian yang tidak datang tiba-tiba.

Lulusan Fakultas Sains dan Teknologi (FAST), Program Studi Agroteknologi angkatan 2020 itu, lebih dulu menguatkan fondasi akademiknya. Setelah meraih gelar sarjana, ia melanjutkan studi Magister Agroteknologi di Universitas Hasanuddin pada 2025.

Kini, di semester tiga, Hikmaya bersiap untuk satu fase baru: berangkat ke Jepang pada September 2026.

β€œIni program SUIJI Joint Program untuk Magister dan Doktor, durasinya 12 bulan,” ujar Hikmaya saat dikonfirmasi, Senin (6/4/2026).

Program ini bukan program biasa. Pesertanya terbatas. Hanya dari kampus-kampus besar seperti Unhas, UGM, dan IPB. Seleksinya ketat. Tidak cukup hanya nilai.

Harus ada proposal.

Dalam bahasa akademik, ini soal research proposal feasibilityβ€”kelayakan dan kedalaman riset. Proposal yang diajukan harus sinkron dengan topik yang disetujui oleh supervisor di kampus tujuan. Di titik ini, kualitas gagasan menjadi penentu.

β€œProposal dan kesesuaian topik itu kunci. Kalau tidak nyambung, sulit lolos,” katanya.

Di sinilah Hikmaya unggul.

Ia mampu membangun narasi riset yang kuat. Relevan. Dan bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Namun, ada hal lain yang lebih menarik.

Ia datang dari kampus daerah.

Dan ia tidak melihat itu sebagai kelemahan.

β€œMenjadi alumni UMS Rappang adalah kehormatan. Bukan soal kampus di daerah atau tidak, tapi bagaimana kita menyadari bahwa kampus ini juga kompeten,” ujarnya.

Pernyataan itu seperti menampar stigma lama.

Bahwa kualitas tidak selalu ditentukan oleh lokasi. Tapi oleh kapasitas individu dan daya juang akademik.

Hikmaya menyebut, peluang untuk menembus level nasional hingga internasional selalu terbuka. Asalkan ada inisiatif. Ada konsistensi.

Dalam istilah pendidikan, ini disebut self-driven learningβ€”dorongan belajar yang lahir dari dalam diri, bukan sekadar tuntutan sistem.

β€œSelama ada kemauan untuk berkembang, mahasiswa dari kampus daerah juga bisa bersaing,” tegasnya.

Ia juga menyinggung satu hal mendasar: pentingnya ilmu.

Mengutip pesan Imam Syafi’i, ia menegaskan bahwa kesuksesan tidak lepas dari proses panjang dalam menuntut ilmuβ€”dengan kesungguhan dan pengamalan.

Di akhir, pesannya sederhana. Tapi dalam.

Untuk mahasiswa UMS Rappangβ€”dan siapa pun yang merasa β€œdari daerah”—ia mengingatkan satu hal: jangan menunggu sempurna untuk mulai.

β€œManfaatkan kesempatan, aktif cari informasi, dan jangan ragu mencoba. Selama ada kemauan, pasti ada jalan,” tutupnya.

Dari Sidenreng Rappang ke Jepang.

Langkahnya sudah dimulai. (edybasri)

K
Katasulsel.com
Ikuti kami di media sosial
Berita terbaru Katasulsel juga hadir di Instagram dan TikTok.
Follow Katasulsel untuk update berita terbaru