PALOPO, Katasulsel.com — Kalimat itu terdengar sederhana, tapi daya ledaknya besar. Penjabat Sekretaris Daerah Kota Palopo, Zulkifli Halid, memilih bicara terus terang di hadapan ASN saat upacara Hari Kebangkitan Nasional: kondisi keuangan daerah sedang tidak baik-baik saja.

Di tengah tradisi pidato yang biasanya penuh optimisme, pernyataan itu justru seperti sirene darurat. Ada tekanan nyata yang sedang dihadapi Kota Palopo.

Menurut Zulkifli, beban fiskal semakin berat setelah dana transfer dari pemerintah pusat dipangkas hingga Rp168 miliar. Angka itu bukan nominal kecil. Untuk daerah dengan ruang anggaran terbatas, pemotongan sebesar itu bisa mengubah banyak rencana pembangunan menjadi sekadar wacana di atas kertas.

Belum selesai sampai di situ. Ia juga membeberkan fakta yang membuat banyak orang menoleh: dibanding daerah lain di kawasan Luwu Raya, APBD Kota Palopo disebut paling kecil, hanya sekitar Rp845 miliar.

Artinya jelas, tenaga fiskal Palopo sedang ngos-ngosan. Jika daerah lain bisa berlari, Palopo saat ini harus pandai mengatur napas.

Situasi tersebut memaksa pemerintah kota mengubah gaya bermain. Tidak bisa lagi hanya menunggu uang turun ke kas daerah. Wali Kota dan Wakil Wali Kota, kata Zulkifli, kini lebih sering berada di luar daerah untuk melakukan lobi dan memburu program-program pusat agar masuk ke Palopo.

Di era sekarang, kepala daerah bukan hanya administrator. Mereka juga harus menjadi negosiator, pemburu peluang, bahkan salesman pembangunan. Siapa yang pasif, akan ditinggal.

Zulkifli meminta seluruh aparatur memahami kondisi riil tersebut. ASN diminta tetap bekerja maksimal, menjalankan tugas dengan efektif, dan tidak terjebak pola lama saat anggaran sedang ketat.

Pesannya sederhana: ketika uang sedikit, kreativitas harus banyak. Saat fiskal seret, birokrasi wajib lincah.

Palopo kini berada di persimpangan. Bisa terus bertahan dalam tekanan, atau bangkit dengan strategi baru: memperkuat Pendapatan Asli Daerah (PAD), memangkas belanja tak penting, dan agresif menjemput peluang dari pusat.

Karena dalam dunia pemerintahan modern, daerah yang hanya menunggu biasanya kalah cepat. Dan kota yang lambat beradaptasi, perlahan bisa tertinggal jauh. (*)

Mengawal akurasi dan kedalaman berita

Cluster Palopo: Lihat berita Palopo