Sidrap, katasulsel.com — Tidak pakai banyak seremoni. Langsung kerja.
Sekitar 230 warga tumpah ruah di area pekuburan Kelurahan Wettee, Kecamatan Panca Lautang, Selasa (21/4/2026).
Tujuannya satu: bersihkan.
Kegiatan karya bakti ini dipimpin Babinsa setempat, Aris A. Fokusnya jelas—angkat sampah, tebas rumput liar, pangkas ranting yang sudah mengganggu.
Hasilnya langsung terasa.
Area yang sebelumnya semak dan kurang terawat, berubah jadi lebih rapi dan nyaman.
Yang menarik bukan hanya hasilnya.
Tapi partisipasinya.
Ratusan warga hadir. Bukan sekadar formalitas, tapi benar-benar bekerja. Dari aparat desa, tokoh masyarakat, sampai warga biasa.
Camat Panca Lautang, Muh Basri R, ikut turun langsung memimpin. Didampingi Sekcam Gumiati Laosi.
Semua lurah dan kepala desa se-kecamatan juga hadir.
Ini bukan kegiatan biasa.
Ini konsolidasi sosial.
Di tengah budaya gotong royong yang mulai terkikis di banyak tempat, Panca Lautang justru menunjukkan sebaliknya.
Masih hidup.
Masih kuat.
Babinsa Aris A menyebut kegiatan ini bukan sekadar bersih-bersih, tapi bentuk kepedulian bersama.
Selain estetika, ada faktor keamanan. Ranting yang lebat bisa membahayakan pengunjung.
“Ini bukti gotong royong masih kuat,” ujarnya.
Sementara Camat Muh Basri menegaskan kegiatan seperti ini harus terus dijaga.
Karena lingkungan yang bersih bukan hasil satu hari.
Tapi kebiasaan.
Karya bakti ini mungkin sederhana.
Tapi di balik itu, ada pesan kuat: ketika masyarakat kompak, pekerjaan berat pun jadi ringan.
Dan di Wettee, itu bukan teori.
Itu terjadi langsung di lapangan. (*)
Cluster Sidrap: Lihat berita Sidrap
