Makassar, katasulsel.com — Di antara ratusan jemaah yang tiba di asrama, satu sosok langsung mencuri perhatian.
Bukan karena usia yang tua.
Tapi justru sebaliknya.
Masih 16 tahun.
Namanya Kheysia Arnita Putri.
Remaja putri asal Kabupaten Sidrap ini menjadi jemaah termuda dalam Kloter 2 Embarkasi Makassar. Ia tiba bersama rombongan di Asrama Haji Sudiang, Selasa (21/4/2026) sekitar pukul 13.30 Wita.
Namun, yang membuat kisahnya berbeda bukan hanya usia.
Ada cerita duka di balik keberangkatan itu.
Kheysia berangkat menggantikan sang ibu yang telah meninggal dunia pada 2023. Sebuah amanah yang sudah lama dinantikan keluarga—bahkan sejak lebih dari satu dekade lalu.
“Saya menggantikan mama. Beliau sudah menunggu lebih dari 10 tahun,” ujarnya.
Di usia yang masih duduk di bangku kelas 1 SMA, Kheysia harus memikul sesuatu yang tidak ringan: melanjutkan niat orang tua ke Tanah Suci.
Ia berangkat seorang diri.
Tanpa pendamping keluarga.
“Hanya sendiri pergi,” katanya singkat.
Kalimat sederhana, tapi menyimpan makna besar.
Di tengah ratusan jemaah yang mayoritas didampingi keluarga, ia melangkah dengan satu bekal utama: tekad.
Dan doa.
Perasaan yang ia rasakan pun campur aduk. Bangga, haru, sekaligus tanggung jawab.
“Saya senang jadi jemaah termuda. Pasti akan saya doakan ibu,” ungkapnya.
Kloter 2 sendiri berisi 387 jemaah asal Sidrap. Mereka menjadi bagian dari gelombang awal pemberangkatan haji tahun ini.
Kepala Kanwil Kemenag Sulsel, Ikbal Ismail, memastikan rombongan telah diterima dan siap diberangkatkan.
“Besok subuh mereka berangkat,” katanya.
Jadwal keberangkatan ditetapkan pukul 03.35 Wita menuju Tanah Suci.
Di tengah sistem panjang, antrean bertahun-tahun, dan prosedur yang tidak sederhana, kisah Kheysia menjadi potret lain dari ibadah haji.
Bahwa di balik angka-angka jemaah, selalu ada cerita manusia.
Cerita tentang kehilangan.
Tentang harapan yang diteruskan.
Dan tentang seorang anak yang memilih melangkah, membawa doa yang belum sempat dipanjatkan ibunya.
Perjalanan ini bukan hanya tentang rukun Islam kelima.
Tapi tentang menyambung niat—yang terhenti, lalu dilanjutkan dengan penuh keberanian. (*)
