Oleh: Edy Basri

Ada kalanya sebuah daerah masuk Istana tanpa mengirim bupati.

Tanpa mengirim wakil bupati.

Tanpa mengirim anggota DPR.

Bahkan tanpa perlu membuat rombongan.

Cukup satu orang.

Namanya; Muhammad Quraish Shihab.

Presiden Prabowo Subianto melantiknya menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) periode 2026–2029.

Maka kali ini bolehlah orang Sidrap berceloteh:

“Mau Prabowo, Sidrap masuk Istana.”

Jangan buru-buru salah paham.

Ini bukan berarti Presiden Prabowo sedang punya urusan khusus dengan Kabupaten Sidrap.

Bukan.

Ini hanya cara sederhana untuk membaca sebuah kebetulan yang menarik.

Prabowo menghendaki Quraish Shihab masuk Wantimpres.

Quraish Shihab lahir di Rappang.

Rappang ada di Sidrap.

Jadi, ketika Quraish Shihab masuk Istana, ada sedikit Sidrap yang ikut masuk di dalamnya.

Sesederhana itu.

Tapi kalau direnungkan, tidak sesederhana itu.

Saya justru tertarik pada satu hal.

Mengapa orang dari Rappang?

Bukan Jakarta.

Bukan Bandung.

Bukan Surabaya.

Bukan kota besar yang sejak kecil sudah dikelilingi perpustakaan besar, universitas besar, dan gedung-gedung besar.

Rappang.

Kota yang kalau orang luar Sulawesi Selatan ditanya letaknya, belum tentu langsung tahu.

Di situlah Quraish Shihab lahir, 16 Februari 1944.

Tahun ketika Indonesia baru berumur beberapa bulan.

Rappang tentu tidak seperti sekarang.

Jangankan internet.

Mungkin radio pun belum menjadi barang yang dimiliki semua orang.

Tetapi dari tempat seperti itulah seorang anak kemudian tumbuh menjadi salah satu cendekiawan Muslim paling berpengaruh di Indonesia.

Ini yang menarik.

Kadang-kadang kita terlalu gampang mengukur sebuah daerah dari apa yang kelihatan.

Ada bandara atau tidak.

Ada mal atau tidak.

Ada hotel bintang lima atau tidak.

Ada gedung tinggi atau tidak.

Padahal ukuran daerah yang sesungguhnya bukan itu.

Ukuran daerah adalah manusia yang berhasil dilahirkannya.

Dan dalam urusan itu, Sidrap punya cerita panjang.

Quraish Shihab kemudian pergi jauh.

Jauh sekali.

Ke Mesir.

Belajar di Al-Azhar.

Bukan untuk jalan-jalan.

Bukan untuk mencari konten.

Belajar.

Bertahun-tahun.

Ia pulang membawa ilmu.

Lalu mengajar.

Menulis.

Meneliti.

Berbicara.

Menjadi Menteri Agama.

Menjadi duta besar.

Menjadi salah satu rujukan penting dalam kajian Al-Qur’an di Indonesia.

Tafsir Al-Mishbah lahir dari perjalanan panjang itu.

Buku-buku lahir.

Gagasan lahir.

Murid lahir.

Pengaruh pun tumbuh.

Pelan-pelan.

Tidak meledak seperti kembang api.

Tetapi bertahan seperti cahaya lampu.

Itu yang kadang kita lupa.

Yang besar tidak selalu tumbuh dengan suara besar.

Pohon besar tidak setiap hari berteriak bahwa ia sedang tumbuh.

Ia diam.

Akarnya masuk ke tanah.

Batangnya menguat.

Daunnya bertambah.

Lalu suatu hari orang datang dan berkata:

“Wah, besar sekali.”

Begitu pula Quraish Shihab.

Puluhan tahun membangun ilmu.

Puluhan tahun menulis.

Puluhan tahun berbicara kepada masyarakat.

Lalu sekarang, pada usia 82 tahun, ia kembali dipanggil ke Istana.

Bukan karena sedang viral.

Bukan karena sedang membuat kegaduhan.

Tetapi karena pengalaman dan pandangannya masih dianggap diperlukan.

Bersambung……..

Di sinilah ceritanya menjadi menarik bagi Sidrap.

Kita sering bangga kalau orang Sidrap menjadi pejabat.

Wajar.

Tetapi jangan sampai ukuran kebanggaan kita berhenti pada jabatan.

Sebab jabatan itu ada masa berlakunya.

Hari ini menteri.

Besok bukan.

Hari ini pejabat.

Besok kembali menjadi warga biasa.

Tetapi ilmu berbeda.

Ilmu bisa tinggal jauh lebih lama daripada jabatan.

Quraish Shihab sudah membuktikannya.

Ia pernah menjadi Menteri Agama.

Jabatan itu selesai.

Tetapi ketika orang mencari penjelasan tentang Al-Qur’an, namanya tetap dicari.

Itulah kekayaan yang sebenarnya.

Dan sekarang ada satu pemandangan yang mungkin tidak terlalu disadari orang Jakarta.

Di Istana Negara ada seorang putra Rappang.

Bukan membawa gabah.

Bukan membawa hasil ternak.

Bukan pula membawa proposal pembangunan.

Ia membawa sesuatu yang jauh lebih ringan.

Pemikiran.

Itu saja.

Tetapi kadang sesuatu yang paling ringan justru paling berat dibawa.

Karena pemikiran yang benar bisa mengubah cara orang melihat dunia.

Sidrap selama ini terkenal dengan beras.

Tidak salah.

Bahkan itu kebanggaan.

Tetapi saya kira sudah waktunya kita menambahkan satu kalimat:

Sidrap bukan hanya lumbung beras. Sidrap juga pernah menjadi tempat tumbuhnya salah satu lumbung pemikiran Islam Indonesia.

Quraish Shihab adalah buktinya.

Dan mungkin di sinilah kita perlu sedikit bercermin.

Kalau seorang anak Rappang bisa sampai ke Al-Azhar, menjadi menteri, menjadi ulama besar, lalu kembali dipercaya duduk di lingkaran pertimbangan Presiden, berarti persoalannya bukan apakah anak Sidrap bisa bersaing.

Bisa.

Pertanyaannya justru:

Berapa banyak lagi anak Sidrap yang sedang kita siapkan untuk perjalanan sejauh itu?

Nah.

Ini yang lebih penting.

Bukan sekadar bangga kepada Quraish Shihab.

Tetapi melahirkan Quraish Shihab-Quraish Shihab berikutnya.

Maka judul ini boleh saja terdengar seperti bercanda.

Mau Prabowo, Sidrap Masuk Istana.

Tetapi di balik bercandanya ada kenyataan.

Presiden memilih Quraish Shihab.

Quraish Shihab adalah putra Rappang.

Rappang adalah Sidrap.

Maka, suka tidak suka, senang tidak senang, bangga tidak bangga—

Sidrap memang masuk Istana.

Tidak perlu mengetuk pintu.

Tidak perlu membawa surat pengantar.

Tidak perlu meminta tempat.

Satu putranya sudah dipanggil.

Dan mungkin itu cara paling elegan sebuah daerah menunjukkan bahwa dirinya pernah melahirkan manusia yang layak didengar republik.

Dari Rappang.

Ke Al-Azhar.

Ke panggung nasional.

Dan sekarang—

ke Istana.

Sidrap ikut masuk.

Diam-diam.

Tetapi nyata. (*)