Palopo, katasulsel.com – Kota ini seperti sedang demam. Bukan demam biasa. Ini demam yang pelan-pelan menggerogoti: narkoba.
Sabu-sabu beredar seperti gula pasir. Mudah didapat. Sulit dihentikan.
Di tengah situasi itu, satu nama segera masuk: IPTU Amiruddin.
Belum resmi duduk sebagai Kasat Narkoba Polres Palopo. Tapi ekspektasi sudah menumpuk. Bahkan sebelum ia sempat memanaskan kursi.
Ini bukan mutasi biasa. Ini seperti “dilempar” ke zona merah.
Palopo dan Pola Baru: Narkoba Tanpa Wajah
Peredaran narkoba di Palopo sudah naik level.
Tidak lagi transaksi sembunyi-sembunyi di lorong gelap. Tidak perlu lagi tatap muka.
Sekarang pakai sistem “tempel”.
Barang ditaruh. Lokasi dikirim. Pembeli datang. Selesai.
Lebih rapi. Lebih aman. Lebih licin.
Platformnya? Media sosial. Instagram jadi “etalase”. Chat jadi transaksi. Tidak ada suara. Tidak ada saksi.
Ini bukan lagi kejar-kejaran konvensional. Ini perang diam-diam.
Dan lebih gawat lagi:
Jaringannya diduga dikendalikan dari dalam lapas.
Bayangkan. Dari balik jeruji, justru mengendalikan pasar.
Yang Ditangkap Itu-Itu Saja
Publik mulai bosan.
Setiap rilis:
“Diamankan kurir.”
“Diamankan pengguna.”
Bandar besar?
Seperti hantu. Ada, tapi tak pernah terlihat.
Ini yang bikin orang mulai bertanya:
Apakah aparat kalah canggih?
Atau ada yang terlalu pintar bersembunyi?
Atau… jangan-jangan ada yang “bermain aman”?
Amiruddin: Bukan Polisi “Biasa”
Di titik ini, harapan diarahkan ke satu orang.
IPTU Amiruddin. Sebentar lagi resmi jadi Kasat Narkoba Polres Palopo.
Ia bukan orang baru di dunia narkoba.
Bukan juga tipe “kerja asal jalan”.
Pernah jadi Kanit Satnarkoba Polres Sidrap.
Semua tahu, bagaimana narkoba di Sidrap.
Ia pernah, bahkan beberapa kali ikut mengungkap kasus besar di daerah itu.
Bukan hanya tangkap kaki tangan—tapi naik ke atas.
Lalu jadi Kapolsek Dua Pitue.
Artinya: paham wilayah. Paham karakter masyarakat. Paham cara kerja jaringan.
Tipenya?
Bukan yang banyak bicara. Tapi kerja.
Di lapangan, dikenal berani.
Tidak gampang mundur.
Tidak takut “main besar”.
Tiga PR Besar: Ini Ujian Sebenarnya
Kalau mau jujur, kursi Kasat Narkoba Palopo sekarang bukan kursi empuk. Ini kursi panas.
Ada tiga PR yang menunggu:
1. Naik Kelas: Dari Kurir ke Bandar
Kalau yang ditangkap masih itu-itu saja, artinya belum tembus.
Publik tidak butuh angka penangkapan. Publik butuh keadilan.
2. Lawan Modus Digital
Ini bukan zaman lagi mengandalkan informan di warung kopi.
Ini zaman akun fake, DM, dan titik koordinat.
Harus main di dunia mereka.
3. Bongkar Kendali dari Lapas
Kalau benar dikendalikan dari dalam, berarti ada celah besar.
Dan celah itu harus ditutup—kalau perlu dibongkar sekalian.
Pemuda: Antara Target dan Harapan
Yang paling rentan tetap satu: anak muda.
Mereka bukan hanya target pasar.
Tapi juga target rekrutmen.
Di sisi lain, mereka juga bisa jadi benteng.
Makanya dorongan dari DPRD dan gerakan Karang Taruna itu bukan basa-basi. Itu penting.
Tapi tetap saja—
tanpa penegakan hukum yang tajam, semua itu cuma jadi “kegiatan seremonial”.
Ini Bukan Soal Hebat atau Tidak
Ini soal berani atau tidak.
Berani menyentuh yang selama ini tak tersentuh.
Berani membuka yang selama ini tertutup.
Karena Palopo sekarang tidak butuh sekadar polisi.
Palopo butuh “pemutus rantai”.
Dan semua mata sekarang tertuju ke satu nama:
IPTU Amiruddin.
Apakah ia akan jadi pembeda?
Publik Palopo menanti sosok perwira yang sebentar lagi berpangkat Ajun Komisaris Polisi (AKP) ini.
Waktu tidak akan lama menjawab. (*)


