Sidrap, katasulsel.com β Malam ini, gema takbir masih memeluk langit Bumi Nene Mallomo.
Dari rumah-rumah warga, musala, hingga lorong kampung, suara Allahu Akbar terus mengalun memecah malam 27 Mei 2026. Sidrap sedang berada di salah satu malam paling sakralβmalam takbiran Idul Adha 1447 Hijriah.
Namun esok pagi, ada pemandangan yang tak biasa.
Bukan hanya masjid atau lapangan umum yang dipadati jamaah.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Halaman Polres Sidrap akan berubah menjadi hamparan sajadah besar. Tempat di mana masyarakat, tokoh agama, aparat, anak-anak, orang tua, pejabat, hingga polisi akan berdiri sejajar menunaikan Salat Id berjamaah.
Sebuah simbol yang jarang punya makna sedalam ini:
ketika polisi dan rakyat bertemu bukan karena laporan, bukan karena razia, bukan karena perkaraβtetapi karena takbir dan sujud yang sama.
Di momentum istimewa itu, Kapolres Sidrap AKBP Dr. Fantry Taherong menyampaikan pesan penuh makna kepada masyarakat.
Ia mengajak warga menjadikan Idul Adha sebagai hari memperkuat kebersamaan, menjaga keamanan, dan merawat persaudaraan.
βBesok kita berkumpul bukan dalam barisan pengamanan, tapi dalam barisan ibadah. Polisi dan masyarakat berdiri di tempat yang sama, menghadap kiblat yang sama,β ujar AKBP Dr. Fantry Taherong.
Bagi banyak warga, halaman Polres biasanya identik dengan pengamanan, pelayanan hukum, atau urusan administrasi.
Tapi esok, halaman itu berubah wajah.
Tak ada sirene.
Tak ada suara komando.
Yang terdengar hanya takbir, khutbah, dan doa.
Yang terbentang bukan garis polisi.
Melainkan saf-saf Salat Id.
AKBP Fantry Taherong menyebut, pelaksanaan Salat Id berjamaah di halaman Polres Sidrap bukan sekadar agenda keagamaan, tetapi bentuk kedekatan polisi dengan masyarakat.
Bahwa institusi kepolisian bukan sekadar penjaga keamanan, tapi juga bagian dari denyut kehidupan warga.
βMari datang dengan hati yang bersih. Kita jaga silaturahmi, jaga ketertiban, dan sambut Idul Adha dengan damai,β pesannya.
Malam ini, Sidrap bertakbir.
Esok pagi, masyarakat akan datang membawa sajadah, keluarga, dan doa.
Sebagian mungkin datang dengan seragam.
Sebagian dengan sarung.
Sebagian membawa anak kecil.
Sebagian datang hanya membawa harapan.
Tapi semuanya akan berdiri sama.
Tanpa sekat.
Tanpa pangkat.
Tanpa jarak.
Di halaman Polres Sidrap, polisi dan rakyat akan bertemu dalam satu saf, satu takbir, satu kiblat.
Dan mungkin, itulah wajah Idul Adha yang paling indah:
ketika rumah hukum berubah menjadi rumah sujud. (*)
