Jakarta, katasulsel.com — Dunia akademik lagi ramai dibicarakan setelah muncul dugaan adanya sejumlah orang yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk membuat atau memanipulasi riset ilmiah. Tujuannya diduga bukan sekadar cari publikasi, tapi sampai bisa dapat travel grant buat jalan-jalan ke konferensi internasional.
Isu ini viral di media sosial. Warganet menyoroti ada orang yang disebut-sebut bukan dokter, bukan perawat, bahkan bukan tenaga kesehatan, tapi bisa ikut berbagai konferensi kedokteran di luar negeri. Bahkan, ada yang diklaim sudah mengunjungi puluhan negara lewat undangan konferensi ilmiah.
Hal ini bikin banyak orang bertanya-tanya: kok bisa lolos seleksi? Kok bisa dapat dana perjalanan berkali-kali?
Menanggapi kegaduhan ini, Majelis Guru Besar Kedokteran Indonesia (MGBKI) buka suara. Mereka menilai kasus ini lebih tepat dibahas dari sisi etika dan kejujuran dalam dunia akademik, bukan langsung dibawa ke ranah hukum.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Menurut Prof. Theddeus Octavianus Hari Prasetyono, persoalan seperti ini biasanya harus ditangani dulu oleh institusi tempat orang tersebut bernaung.
“Ini lebih ke masalah etika. Yang paling berhak menindak itu institusi akademiknya,” ujarnya, Selasa (26/5/2026).
Ia juga menyoroti kemungkinan adanya kelemahan dalam proses seleksi konferensi internasional. Kalau memang riset yang dipakai ternyata tidak valid tapi bisa lolos dan dipresentasikan, berarti ada yang perlu dibenahi di sistem penilaiannya.
“Kalau sampai bisa lolos dan tampil di forum ilmiah, berarti ada yang kurang ketat dalam proses seleksinya,” tambahnya.
…………..
