Atlanta – Ketika Lionel Messi gagal mengeksekusi penalti pada babak pertama, banyak yang mengira malam itu akan menjadi awal petaka bagi Argentina. Namun sang kapten membuktikan bahwa legenda tidak pernah benar-benar hilang dari pertandingan.

Messi bangkit dari mimpi buruknya, memimpin kebangkitan luar biasa Argentina untuk menaklukkan Mesir 3-2 pada babak 16 besar Piala Dunia 2026 di Stadion Mercedes-Benz, Atlanta, Rabu (8/7/2026).

Kemenangan ini terasa lebih dari sekadar tiket perempat final. Argentina nyaris tersingkir setelah tertinggal dua gol hingga menit ke-79 sebelum akhirnya mencetak tiga gol dalam rentang waktu 14 menit yang mengubah arah pertandingan.

Sejak peluit awal berbunyi, Argentina tampil sebagai pengendali permainan. Albiceleste mendominasi penguasaan bola dan terus menekan pertahanan Mesir. Namun, dominasi itu justru dibalas dengan efisiensi tinggi dari The Pharaohs.

Mesir membuka keunggulan pada menit ke-15 melalui sundulan Yasser Ibrahim yang memanfaatkan sepak pojok Marwan Attia. Gol itu menjadi pukulan pertama bagi Argentina.

Enam menit kemudian, Argentina memperoleh kesempatan emas untuk menyamakan skor setelah Nicolas Tagliafico dijatuhkan di area penalti. Messi maju sebagai algojo.

Namun, stadion mendadak sunyi.

Tendangan kapten Argentina berhasil ditepis kiper Mesir, Mostafa Shobeir. Momen tersebut membuat Argentina kehilangan momentum, sementara Mesir semakin percaya diri mengembangkan permainan.

Di babak kedua, Argentina terus menggempur dari berbagai sisi lapangan. Namun lini belakang Mesir tampil disiplin menutup ruang tembak. Saat Albiceleste asyik menyerang, Mesir kembali menusuk lewat serangan balik cepat.

Mostafa Ziko yang sebelumnya sempat melihat golnya dianulir VAR akhirnya benar-benar menggandakan keunggulan Mesir pada menit ke-67. Skor berubah menjadi 2-0 dan Argentina berada di tepi jurang eliminasi.

Waktu terus berjalan. Harapan Argentina perlahan menipis.

Pelatih Lionel Scaloni kemudian memainkan kartu terakhirnya dengan memasukkan sejumlah pemain segar, termasuk Lautaro Martinez. Pergantian itu menjadi titik balik yang mengubah ritme pertandingan.

Menit ke-79, Messi mengirimkan umpan lambung presisi ke jantung pertahanan Mesir. Cristian Romero menyambutnya dengan sundulan keras yang memperkecil ketertinggalan menjadi 2-1.

Gol tersebut menjadi percikan api kebangkitan Argentina.

Empat menit berselang, Messi menebus dosa penaltinya. Dalam situasi kemelut di kotak penalti, peraih delapan Ballon d’Or itu melepaskan tendangan voli yang bersarang di gawang Mostafa Shobeir.

Skor berubah menjadi 2-2.

Stadion yang sebelumnya dipenuhi kecemasan pendukung Argentina mendadak bergemuruh.

Mesir yang selama lebih dari satu jam bermain disiplin mulai kehilangan keseimbangan. Tekanan bertubi-tubi Argentina membuat pertahanan mereka goyah.

Puncak drama terjadi pada masa injury time.

Lautaro Martinez melakukan penetrasi di sisi sayap sebelum mengirim umpan silang terukur ke kotak penalti. Enzo Fernandez datang dari lini kedua dan menyundul bola ke dalam gawang.

Gol tersebut mengubah papan skor menjadi 3-2 sekaligus memastikan Argentina lolos ke perempat final.

Secara statistik, Argentina memang lebih dominan dengan 64 persen penguasaan bola dan 19 tembakan sepanjang laga. Namun angka-angka itu nyaris tak berarti sebelum Messi dan rekan-rekannya menemukan jalan keluar di menit-menit akhir.

Bagi Messi, pertandingan ini menjadi kisah penebusan yang sempurna. Dari kegagalan penalti yang hampir menghancurkan mimpi Argentina, hingga gol penyeimbang yang membuka jalan menuju comeback spektakuler.

Sementara bagi Mesir, kekalahan ini menjadi akhir yang menyakitkan. Mereka sudah menggenggam tiket perempat final di depan mata, tetapi harus melihatnya lepas hanya dalam hitungan menit.

Argentina kini melangkah ke delapan besar dengan modal mental juara yang kembali terbukti. Saat keadaan paling sulit datang, Messi dan Albiceleste sekali lagi menunjukkan bahwa mereka tidak pernah menyerah sebelum peluit akhir berbunyi. (*)