Yang bikin publik makin heran, ada dugaan satu orang bisa berkali-kali dapat travel grant dalam waktu relatif singkat. Padahal, biasanya bantuan seperti itu harus lewat seleksi ketat dan kuotanya terbatas.

“Tidak umum seseorang bisa dapat berkali-kali tanpa kompetisi yang jelas,” katanya.

Meski begitu, MGBKI mengingatkan agar kasus ini tidak langsung digeneralisasi. Dunia riset Indonesia, kata dia, tetap banyak yang bekerja dengan jujur dan serius.

Ia juga menegaskan, praktik nakal seperti ini kalau pun benar terjadi, itu ulah oknum, bukan gambaran seluruh peneliti.

Kasus ini kini masih jadi perbincangan hangat di media sosial, sekaligus membuka diskusi baru soal penggunaan AI di dunia akademik—apakah jadi alat bantu, atau malah disalahgunakan buat “akalin sistem.” (ed)

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Viral Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Viral hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Viral terbaru di sini