Tulang Bawang, katasulsel.com — Tidak ada pelaminan.

Tidak ada tawa keluarga.

Tidak ada iringan musik, apalagi pesta.

Yang ada hanya isak tangis.

Di sebuah rumah sederhana di Kampung Purwa Jaya, Kecamatan Banjar Margo, Kabupaten Tulang Bawang, Lampung, seorang perempuan muda bernama Agustin Putri Ramadini harus menjalani salah satu hari paling berat dalam hidupnya.

Hari yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan.

Namun berubah menjadi hari perpisahan.

Pagi itu, Agustin tetap melangsungkan akad nikah dengan pria yang dicintainya, Nasrul Safaat.

Tetapi akad itu tidak berlangsung di gedung pernikahan.

Tidak pula di rumah yang dipenuhi senyum keluarga.

Akad itu digelar di hadapan tiga jenazah sekaligus.

Ayahnya, Rahmat (69).

Ibunya, Hasanah (56).

Dan adiknya, Devny Kishela Putri (14).

Ketiganya terbaring tak bernyawa setelah ditemukan meninggal dunia dalam kasus yang diduga sebagai pembunuhan yang mengguncang warga setempat.

Di saat keluarga lain biasanya sibuk menyambut tamu pernikahan, keluarga Agustin justru sibuk menyiapkan pemakaman.

Di saat seorang anak perempuan biasanya meminta restu sambil mencium tangan ayah dan ibunya sebelum menikah, Agustin hanya bisa menatap tubuh kedua orangtuanya yang telah terbujur kaku.

Tak ada lagi pelukan.

Tak ada lagi pesan terakhir.

Yang tersisa hanya air mata.

Kapolsek Banjar Agung AKP Irwansyah mengatakan, pernikahan tersebut memang telah direncanakan jauh sebelum tragedi terjadi.

Menurutnya, keluarga memutuskan tetap melaksanakan akad nikah sebagai bentuk penghormatan terhadap nazar dan rencana yang telah disusun sebelumnya.

Prosesi berlangsung sederhana sekitar pukul 09.00 hingga 10.00 WIB.

Tanpa resepsi.

Tanpa hiburan.

Tanpa kemeriahan.

Hanya ijab kabul yang dilaksanakan di hadapan jenazah kedua orangtua mempelai perempuan dan adiknya.

Beberapa saat setelah akad selesai, ketiga jenazah kemudian dibawa menuju tempat pemakaman.

Warga yang menyaksikan prosesi itu mengaku tidak mampu menahan haru.

Tangisan terdengar hampir sepanjang acara.

Bahkan sebagian pelayat memilih menundukkan kepala karena tak sanggup melihat kenyataan yang terjadi di depan mata mereka.

Sebab tidak banyak orang yang harus menjalani dua peristiwa besar sekaligus dalam satu hari.

Menjadi pengantin.

Sekaligus menjadi anak yang kehilangan seluruh sandaran keluarganya.

Tragedi itu sendiri masih meninggalkan luka mendalam.

Polisi sebelumnya mengungkap bahwa terduga pelaku adalah AF (35), yang merupakan adik kandung Hasanah atau paman dari Agustin.

AF diduga melarikan diri setelah peristiwa tersebut sebelum akhirnya ditemukan di wilayah Lampung Timur.

Menurut kepolisian, terduga pelaku kemudian dilumpuhkan karena melakukan perlawanan saat proses penangkapan.

Kasus itu pertama kali terungkap setelah salah seorang anak korban mendatangi rumah keluarga pada Senin pagi.

Saat panggilan tidak mendapat jawaban, pintu rumah akhirnya didobrak.

Di dalam rumah itulah pemandangan mengerikan ditemukan.

Tiga anggota keluarga tergeletak di dua kamar berbeda.

Polisi yang datang ke lokasi menemukan korban mengalami luka akibat benda tajam dan benda tumpul.

Namun di balik seluruh rangkaian peristiwa itu, ada satu momen yang mungkin akan terus diingat warga Purwa Jaya.

Bukan tentang garis polisi.

Bukan tentang pengejaran pelaku.

Melainkan tentang seorang anak perempuan yang tetap mengucapkan akad nikah ketika ayah, ibu dan adiknya telah lebih dulu pergi.

Hari itu seharusnya menjadi hari ketika kedua orangtuanya berdiri paling depan menyaksikan putri mereka memulai kehidupan baru.

Takdir berkata lain.

Mereka tetap hadir.

Tetapi dalam keheningan yang abadi.(*)

K
Katasulsel.com
Ikuti kami di media sosial
Berita terbaru Katasulsel juga hadir di Instagram dan TikTok.
Follow Katasulsel untuk update berita terbaru