Sidrap, katasulsel.com — Di sebuah sudut desa di Kabupaten Sidenreng Rappang, Amirullah nyaris tak punya waktu libur.
Pagi membersihkan kandang. Siang mencari rumput. Sore memandikan sapi. Malam mengecek pakan fermentasi.
Rutinitas itu berlangsung bertahun-tahun.
Tetangga sempat menganggapnya berlebihan.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
βOrang bilang saya terlalu sibuk urus sapi,β kata Amirullah sambil tertawa kecil.
Kini, sapi yang ia rawat seperti anak sendiri itu justru menjadi buah bibir.
Namanya Mahmuddin.
Seekor sapi Brahman Cross berbadan raksasa yang kini resmi diusulkan sebagai calon hewan bantuan kemasyarakatan Presiden Republik Indonesia untuk Iduladha 2026.
Bobotnya besar. Dadanya bidang. Kakinya kokoh. Nafasnya berat.
Saat berdiri di kandang, Mahmuddin tampak lebih mirip βtruk hidupβ ketimbang sapi biasa.
Anak-anak kampung sering datang hanya untuk melihat ukurannya.
βKalau dekat sapi ini, baru terasa besarnya,β ujar seorang warga.
Namun Mahmuddin tidak lahir begitu saja.
Ia adalah hasil dari proses panjang teknologi inseminasi buatan (IB), dipadukan dengan ketelatenan yang nyaris tanpa kompromi.
Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Sidrap, Ahmad Dollah, menyebut Mahmuddin sebagai contoh sukses program pembibitan modern di daerah.
βIni hasil kolaborasi. Ada teknologi, ada kerja peternak, ada pendampingan petugas lapangan,β ujarnya, Kamis (14/5/2026).
Menurut Ahmad, kualitas fisik Mahmuddin memenuhi banyak indikator sapi kurban premium.
Karena itu, pemerintah daerah kini terus memantau kesehatannya secara ketat.
Mulai pola makan, suhu tubuh, hingga kebersihan kandang.
βSemua dijaga agar tetap memenuhi standar bantuan hewan kurban Presiden,β katanya.
Di balik tubuh raksasa Mahmuddin, ada cerita ekonomi yang membuat banyak peternak mulai berpikir ulang soal usaha sapi.
Dulu, sapi itu dibeli Amirullah saat masih berusia sekitar 10 bulan.
Harganya Rp16 juta.
Saat itu tubuhnya belum istimewa.
Belum ada yang memotret. Belum ada pejabat datang melihat.
Namun dua tahun lebih dirawat intensif, nilainya melonjak drastis menjadi Rp95 juta.
Kenaikan harga hampir enam kali lipat.
βKalau dipelihara serius, hasilnya memang luar biasa,β kata Amirullah.
Ia mengaku ada hari-hari sulit selama proses penggemukan.
Harga pakan naik. Rumput kadang sulit dicari saat kemarau. Belum lagi risiko penyakit.
Tetapi ia memilih bertahan.
βSaya percaya sapi bagus itu investasi,β tuturnya.
Di Sidrap, inseminasi buatan memang perlahan mengubah wajah peternakan rakyat.
Petugas inseminator kini menjadi βorang pentingβ di desa-desa.
Mereka bukan hanya datang membawa nitrogen cair dan semen beku.
Selanjutnya……………
Mereka membawa harapan lahirnya sapi unggul.
Kepala Bidang Pembibitan dan Kesehatan Hewan, Andi Bustami, mengatakan keberhasilan seperti Mahmuddin menjadi bukti bahwa peternak lokal mampu bersaing.
βKalau pendampingan dan perawatan berjalan baik, kualitas ternak kita tidak kalah,β ujarnya.
Kini Mahmuddin masih berdiri tenang di kandangnya.
Sesekali mengibas ekor.
Sesekali menatap orang-orang yang datang bergantian melihatnya.
Ia mungkin tidak tahu sedang menjadi perhatian.
Tidak tahu namanya mulai dikenal banyak orang.
Dan tidak tahu, dari kandang sederhana di Sidrap, jalannya mungkin sedang menuju Istana.
Update terbaru: 16 Mei 2026 13:20 WIB
