Baru setahun lebih sedikit. Tetapi denyut perubahan itu mulai terasa sampai ke desa-desa.

Oleh: Edy Basri

Kepemimpinan Syaharuddin Alif (Bupati) Kabupaten Sidenreng Rappang, belum terlalu lama.

Baru seumur jagung.

Bahkan dalam hitungan pembangunan daerah, masa itu masih sangat dini.

Camat Paling Merakyat Versi Pembaca

Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.

Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.

1 perangkat/IP = 1 suara

Memuat 3 besar...

Tetapi di Sidrap, masyarakatnya mulai merasakan ada ritme baru.

Ada gerak yang berbeda.

Tidak gaduh.

Tidak terlalu banyak slogan.

Paling hanya Saromase, atau ..alakoo…hanya dua slogan, tapi dalam maknanya.

Sidrap hari ini, terasa sampai ke warung kopi, sawah, kandang ternak, hingga lorong-lorong desa.

Pagi di Sidrap masih sama seperti dulu.

Petani tetap turun sebelum matahari muncul. Pedagang tetap membuka kios sejak subuh. Anak-anak sekolah masih melintas dengan seragam yang kadang kebesaran.

Tetapi di balik rutinitas itu, masyarakat mulai sering membicarakan satu hal:

Sidrap sedang bergerak.

Dan menariknya, perubahan itu tidak hanya terlihat di pusat kota.

Ia mulai terasa sampai ke pinggiran.

Saya mendengar cerita tentang jalan tani yang mulai diperhatikan. Tentang aktivitas pertanian yang lebih hidup. Tentang pergerakan ekonomi desa yang mulai menggeliat.

Ada pula peternak yang kini lebih percaya diri mengembangkan sapi hasil inseminasi buatan.

Di beberapa desa, masyarakat mulai ramai membahas koperasi desa, pengembangan UMKM, hingga peluang usaha baru.

Memang belum semuanya sempurna.

Tetapi denyut optimisme itu mulai tumbuh.

Dan dalam pembangunan daerah, optimisme masyarakat sering kali lebih penting daripada sekadar angka statistik.

Di bawah kepemimpinan Syaharuddin Alif, Sidrap tampaknya sedang mencoba memperkuat identitas lamanya sekaligus membuka arah baru.

Identitas lama itu adalah pertanian.

Sawah masih menjadi jantung kehidupan masyarakat.

Kabupaten ini tetap menjadi salah satu lumbung pangan terbesar di Sulawesi Selatan.

Padi, bawang merah, dan cabai tetap menjadi urat nadi ekonomi rakyat.

Tetapi Sidrap hari ini tidak ingin berhenti sebagai daerah penghasil gabah semata.

Daerah ini mulai bicara hilirisasi.

Mulai bicara penguatan ekonomi desa.

Mulai bicara energi terbarukan dan modernisasi sektor peternakan.

Dan simbol perubahan paling nyata tetap berdiri di perbukitan: Pembangkit Listrik Tenaga Bayu Sidrap.

Kincir-kincir raksasa itu seperti metafora tentang Sidrap hari ini.

Berputar pelan.

Tetapi menghasilkan energi besar.

Begitu pula arah pembangunan daerah ini.

Tidak terlalu banyak sensasi.

Tetapi perlahan membangun fondasi.

Yang menarik, dalam satu tahun lebih kepemimpinan ini, citra Sidrap juga mulai berubah di mata luar daerah.

Dulu orang mengenal Sidrap hanya sebagai daerah pertanian.

Sekarang mulai muncul identitas baru:

daerah agraris modern yang tumbuh cepat.

Peternakan berkembang.

Koperasi mulai diperkuat.

Aktivitas masyarakat desa semakin hidup.

Anak-anak muda mulai kembali melihat peluang di kampung sendiri.

Dan di tengah semua itu, budaya Bugis tetap menjadi fondasi sosial yang kuat.

Masyarakat Sidrap masih memegang nilai siri’.

Masih menjaga adat.

Selanjutnya….

Masih percaya bahwa kerja keras adalah jalan utama menjaga martabat.

Mungkin itu sebabnya Sidrap berkembang tanpa terlalu banyak keributan.

Ia bekerja seperti masyarakatnya sendiri:

tenang, tetapi konsisten.

Tentu tantangan masih panjang.

Harga hasil panen masih fluktuatif.

Infrastruktur masih perlu diperkuat.

Lapangan kerja baru masih harus diperluas.

Namun satu tahun tiga bulan ini setidaknya memberi satu kesan penting:

Sidrap tidak sedang berjalan di tempat.

Ia sedang bergerak.

Dan bagi daerah agraris seperti Sidrap, gerakan kecil yang konsisten sering kali jauh lebih berarti daripada lompatan besar yang hanya ramai sesaat. desa, pertanian, budaya, dan modernitas bisa berjalan bersama. (*)

Pemimpin Redaksi
Edy Basri adalah Pemimpin Redaksi Katasulsel.com. Lulus Ujian Kompetensi Wartawan (UKW) Dewan Pers sejak 2018 (Wartawan Utama). Sebelumnya sebagai jurnalis di Koran Harian Fajar.

Update terbaru: 16 Mei 2026 14:39 WIB