Jakarta, katasulsel.com — Veda Ega Pratama kembali bikin bangga publik Indonesia setelah tampil ganas di Moto3 GP Prancis 2026 di Sirkuit Le Mans.

Pembalap muda asal Gunungkidul itu sukses finis keempat usai terlibat duel ketat sepanjang balapan dengan para rider Eropa yang sudah lebih dulu langganan barisan depan.

Hasil ini terasa spesial karena Veda bukan cuma cepat satu-dua lap. Dia tampil konsisten sejak start sampai bendera finis berkibar.

Camat Paling Merakyat Versi Pembaca

Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.

Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.

1 perangkat/IP = 1 suara

Memuat 3 besar...

Dari grid keenam, Veda langsung nyemplung ke rombongan depan yang terkenal brutal di kelas Moto3. Sedikit salah ambil racing line atau telat buka gas, posisi bisa langsung melorot beberapa tingkat.

Tapi di Le Mans, Veda tampil beda. Dia terlihat lebih tenang saat masuk tikungan, lebih rapi menjaga racing line, dan pintar memanfaatkan slipstream di trek lurus.

Saat rider lain sibuk saling overtake terlalu agresif, Veda justru sabar menunggu momentum. Cara balap seperti ini biasanya dimiliki pembalap yang mentalnya mulai matang.

Moto3 memang terkenal sebagai kelas paling ribut di dunia balap motor. Gap antarpembalap tipis banget. Dalam satu grup bisa belasan rider nempel kayak gerbong kereta.

Karena itu, pembalap tidak cukup cuma modal nekat. Mereka harus punya feeling, keberanian saat late braking, sampai kemampuan membaca arah angin ketika perang slipstream terjadi di lap terakhir.

Nah, Veda mulai menunjukkan kualitas itu.

Makanya, akun resmi MotoGP ikut menyoroti performanya. Mereka melihat pembalap Indonesia ini makin konsisten masuk enam besar.

Di paddock Moto3, konsistensi seperti itu biasanya jadi alarm buat rival. Artinya, rider tersebut mulai nyaman dengan motornya dan tahu cara bertarung di grup depan.

Bersama Honda Team Asia, perkembangan Veda memang terlihat jelas musim ini. Dia tidak lagi cuma mengejar poin, tapi mulai berani bermain strategi balapan.

Di Le Mans, misalnya, dia tahu kapan harus ngotot mengejar posisi dan kapan harus menahan diri supaya tidak terjebak insiden.

Itu penting, karena Moto3 sering disebut kelas “survival”. Banyak pembalap cepat, tapi tidak semuanya bisa selamat sampai finis. Sedikit senggolan saja bisa berujung crash massal.

………………………

Finis keempat di Prancis juga membuat posisi Veda di klasemen makin menjanjikan. Dia sekarang mulai menempel nama-nama besar seperti Máximo Quiles dan Adrián Fernández. Musim masih panjang, tapi tren positif ini membuat peluang podium bahkan kemenangan mulai terbuka.

Yang bikin publik makin antusias, Veda sekarang terlihat makin percaya diri saat duel lawan rider-rider Eropa. Dulu pembalap Asia sering hanya bertahan di tengah rombongan. Sekarang, Veda sudah berani ikut mengacak-acak grup depan.

Kalau performanya terus stabil seperti ini, bukan tidak mungkin Indonesia akhirnya punya pembalap yang benar-benar bisa bicara banyak di level Grand Prix dunia. Le Mans menjadi bukti bahwa Veda Ega Pratama bukan sekadar numpang lewat di Moto3 2026. Dia mulai hadir sebagai ancaman nyata di lintasan. (*)

Pemimpin Redaksi
Edy Basri adalah Pemimpin Redaksi Katasulsel.com. Lulus Ujian Kompetensi Wartawan (UKW) Dewan Pers sejak 2018 (Wartawan Utama). Sebelumnya sebagai jurnalis di Koran Harian Fajar.

Update terbaru: 11 Mei 2026 11:24 WIB