Katasulsel.com — Nama Iran kembali menjadi sorotan dunia setelah negara itu terus memamerkan kekuatan rudal balistik hingga hipersonik yang disebut mampu menembus sistem pertahanan modern. Di sisi lain, publik Indonesia mulai bertanya-tanya: apakah Indonesia sebenarnya bisa memiliki rudal seperti Iran?
Pertanyaan itu ramai muncul karena Iran saat ini dikenal sebagai salah satu negara dengan kekuatan misil terbesar di Timur Tengah. Negeri tersebut memiliki berbagai jenis rudal, mulai dari balistik jarak menengah, rudal jelajah, hingga hipersonik generasi baru.
Beberapa yang paling terkenal adalah Shahab-3 dengan jangkauan sekitar 2.000 kilometer, Sejjil berbahan bakar padat, hingga Fattah-1 yang diklaim mampu melesat dengan kecepatan di atas Mach 13.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Iran juga memiliki Soumar, rudal jelajah jarak jauh yang disebut mampu menghantam target lebih dari 2.000 kilometer.
Kemampuan itu membuat Iran menjadi salah satu negara yang paling diperhitungkan dalam perang rudal modern.
Namun kondisi tersebut sangat berbeda dengan Indonesia.
Saat ini, sistem rudal Indonesia lebih banyak difokuskan untuk pertahanan udara dan laut. Indonesia diketahui mengoperasikan rudal anti-kapal seperti C-705 dan Yakhont.
Untuk pertahanan udara, Indonesia memakai sistem seperti NASAMS dan Starstreak.
Jangkauannya jauh berbeda dibanding rudal strategis Iran.
Pengamat pertahanan menilai perbedaan itu bukan semata karena teknologi, tetapi karena arah kebijakan militer kedua negara memang berbeda total.
Iran sejak lama berada dalam tekanan embargo dan konflik geopolitik. Karena sulit membeli jet tempur modern dari Barat, negara itu memilih membangun kekuatan rudal sebagai senjata utama untuk menciptakan efek gentar terhadap lawan-lawannya.
Sebaliknya, Indonesia lebih fokus pada pertahanan kawasan dan pengamanan wilayah maritim.
Selain itu, pengembangan rudal balistik jarak jauh juga bukan perkara mudah. Dibutuhkan teknologi tinggi, biaya besar, hingga kemampuan navigasi presisi yang sangat rumit.
Belum lagi adanya tekanan diplomatik internasional terhadap negara yang mengembangkan misil strategis.
Meski begitu, bukan berarti Indonesia tidak punya kemampuan dasar teknologi roket.
Indonesia melalui BRIN dan sejumlah industri pertahanan nasional sebenarnya sudah lama mengembangkan teknologi roket dan sistem persenjataan.
Namun levelnya memang belum sampai pada rudal balistik strategis seperti milik Iran.
Faktor geopolitik juga menjadi pertimbangan besar. Jika Indonesia tiba-tiba mengembangkan rudal balistik jarak ribuan kilometer, situasi keamanan kawasan ASEAN bisa langsung berubah dan memicu kekhawatiran negara tetangga.
Bersambung …………………
Update terbaru: 11 Mei 2026 12:10 WIB
