Jakarta, katasulsel.com — Di tengah dinamika pertahanan kawasan, Indonesia ternyata sudah memiliki sejumlah sistem rudal modern.
Namun, semuanya masih berada dalam satu garis besar kebijakan: pertahanan, bukan agresi.
Yang dimiliki Indonesia saat ini bukanlah rudal jarak jauh antar-benua atau senjata nuklir, melainkan sistem persenjataan berlapis untuk menjaga wilayah udara, laut, dan titik-titik strategis.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Di sektor pertahanan udara jarak pendek, Indonesia mengoperasikan Starstreak, rudal buatan Thales dari Irlandia Utara.
Senjata ini dikenal sangat cepat, melaju di atas Mach 3 dengan jangkauan sekitar 7 kilometer. Fungsinya lebih sebagai penangkis serangan udara dari jarak dekat.
Selain itu ada Mistral, rudal portabel buatan Prancis melalui MBDA.
Senjata ini bisa dibawa pasukan darat atau dipasang di kendaraan maupun kapal. Kecepatannya mencapai Mach 2,6 dengan tingkat akurasi yang diklaim sangat tinggi.
Ini memperkuat lapisan pertahanan udara tingkat bawah.
Di laut, Indonesia memiliki Yakhont P-800 buatan Rusia. Rudal ini masuk kategori antikapal dengan jangkauan 120 hingga 300 kilometer.
Dengan kecepatan sekitar Mach 2,5 dan hulu ledak besar, Yakhont menjadi salah satu senjata penting untuk menjaga wilayah perairan.
Masih dari Rusia, ada Kh-59ME, rudal jelajah yang dirancang untuk menghantam target di laut dengan jarak sekitar 200 kilometer.
Sistem ini menggunakan mesin turbojet dan lebih banyak digunakan untuk sasaran kapal atau target bergerak.
Sementara itu, yang cukup baru adalah KHAN, rudal balistik taktis buatan Turki dari Roketsan.
Rudal ini memiliki jangkauan 80 hingga 280 kilometer dan menjadi salah satu sistem terbaru yang memperkuat kemampuan serangan presisi Indonesia di level taktis.
Meski demikian, Indonesia tidak memiliki rudal jarak jauh antar-benua (ICBM) yang mampu menjangkau ribuan kilometer, apalagi rudal nuklir.
Pilihan ini bukan karena keterbatasan semata, tetapi bagian dari kebijakan pertahanan yang menekankan sifat defensif.
Artinya, seluruh sistem persenjataan yang dimiliki lebih diarahkan untuk menjaga kedaulatan wilayah, bukan untuk proyeksi kekuatan serangan jarak jauh.
Jika diringkas, Indonesia saat ini berada pada posisi negara dengan kemampuan rudal menengah: cukup untuk pertahanan udara dan laut yang berlapis, tetapi tidak masuk dalam kategori kekuatan rudal strategis global.
Di balik itu semua, arah kebijakan yang dijaga tetap sama sejak lama: memperkuat pertahanan tanpa meninggalkan prinsip tidak mengembangkan senjata pemusnah massal.(*)
