Sidrap, Katasulsel.com — Malam itu Masjid Agung Sidrap tidak seperti biasanya. Bukan sekadar tempat salat berjamaah, tetapi berubah menjadi ruang syukur yang penuh haru. Sebanyak 46 santri dan santriwati resmi diwisuda sebagai penghafal 30 juz Al-Qur’an pada Ahad malam (10/5/2026), dalam kegiatan Wisuda/Penamatan Tahfidz Al-Qur’an Angkatan XI Lembaga Darul Imam/Madinatul Imam.

Mereka datang dari berbagai daerah. Tidak hanya dari Sidenreng Rappang dan Sulawesi Selatan, tetapi juga dari luar pulau seperti Kalimantan Utara. Perbedaan jarak itu seolah menyatu dalam satu malam yang sama: malam kelulusan para penjaga kalam Ilahi.

Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif, hadir langsung. Ia tidak banyak bermain formalitas. Justru ia mengarahkan perhatian ke satu hal yang sering luput: orang tua.

Camat Paling Merakyat Versi Pembaca

Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.

Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.

1 perangkat/IP = 1 suara

Memuat 3 besar...

Menurutnya, di balik hafalan 30 juz yang hari itu dipamerkan dengan penuh kebanggaan, ada kerja sunyi orang tua yang tidak pernah terlihat kamera. Ada doa yang tidak pernah berhenti. Ada keringat yang tidak pernah tercatat di laporan akademik.

Ia menyebut keberhasilan para santri sebagai buah dari kesabaran keluarga. “Dengan dorongan orang tua, tetesan keringat orang tua, doa orang tua serta kerja keras orang tua, Insya Allah akan dibalas oleh Allah SWT di dunia dan akhirat kelak,” ucapnya di hadapan jamaah yang memenuhi masjid.

Suasana berubah hening ketika satu per satu nama dipanggil. Para santri berjalan ke depan dengan langkah yang pelan tapi pasti. Di belakang mereka, ada orang tua yang menatap dengan mata yang sulit menyembunyikan rasa bangga. Beberapa terlihat menunduk, bukan karena sedih, tetapi karena tak mampu menahan emosi.

Hafalan 30 juz itu bukan perjalanan singkat. Ia adalah proses panjang yang tidak hanya menguji ingatan, tetapi juga kesabaran. Di titik inilah banyak orang tua merasa bahwa perjuangan mereka akhirnya menemukan bentuknya.

Dalam kesempatan itu, Syaharuddin juga menyampaikan arah besar pembangunan daerah. Ia menegaskan Sidrap tidak hanya ingin dikenal sebagai daerah pertanian dan peternakan. Ia ingin ada satu identitas lain yang dibangun pelan-pelan: daerah penghafal Al-Qur’an.

Ia menyebut empat visi besar pembangunan Sidrap, yakni lumbung beras Indonesia, lumbung telur Indonesia, lumbung energi terbarukan, dan lumbung penghafal Al-Qur’an Indonesia. Empat hal yang tampak berbeda, tetapi dipertemukan dalam satu gagasan: membangun manusia sekaligus membangun daerah.

Acara itu turut dihadiri Sekretaris Daerah Andi Rahmat Saleh, Kepala Kantor Kementerian Agama Republik Indonesia Sidrap Fitriadi, Staf Ahli Bupati Bachtiar, Camat Maritengngae Firman, para imam masjid, serta tokoh masyarakat.

Namun yang paling menonjol malam itu bukan deretan pejabat atau sambutan resmi. Yang paling kuat justru adalah pemandangan sederhana: pelukan orang tua kepada anaknya yang baru saja menyelesaikan hafalan 30 juz. Pelukan yang tidak butuh banyak kata, karena semuanya sudah diucapkan lewat perjalanan panjang sebelumnya.

Sidrap malam itu seolah sedang memberi pesan pelan: bahwa pembangunan tidak selalu soal jalan dan bangunan. Kadang ia lahir dari hafalan ayat-ayat suci yang menetap di dada anak-anak muda, dan dari doa orang tua yang tidak pernah berhenti bekerja dalam diam. (*)

Editor
Mengawal akurasi dan kedalaman berita