Bali, katasulsel.com — Media sosial kembali gaduh. Kali ini bukan karena penemuan ilmiah atau misteri laut dalam yang nyata, melainkan sebuah video viral yang menampilkan sosok menyerupai alien di dasar laut Bali—yang sekilas tampak seperti adegan film fiksi ilmiah kelas Hollywood.
Video tersebut beredar luas di TikTok dan memperlihatkan suasana bawah laut di kawasan Crystal Bay, Nusa Penida, Bali, dengan bangkai kapal karam sebagai latar.
Di salah satu sudut kapal, tampak figur menyeramkan yang disebut-sebut mirip Xenomorph, monster ikonik dari film Alien. Visualnya cukup meyakinkan: gelap, sunyi, dan atmosferik—cukup untuk membuat banyak penonton merinding sekaligus percaya bahwa ada “sesuatu” di bawah laut Bali.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Konten itu diunggah oleh akun TikTok @giaplay3d dengan narasi yang sengaja dibuat misterius, menyebut adanya penemuan aneh di kapal tenggelam di lokasi diving terkenal di Indonesia. Tak butuh waktu lama, video tersebut meledak dan ditonton ratusan ribu kali, memicu perdebatan panas di kolom komentar.
Sebagian warganet terperangah dan mengira penampakan itu nyata. Namun tidak sedikit pula yang langsung mencium aroma rekayasa digital, mengingat detail visualnya yang terlalu “rapi” untuk ukuran dokumentasi bawah laut biasa.
Rasa penasaran publik kemudian menyeret video itu ke ranah penelusuran. Koordinat yang disertakan dalam konten mengarah ke wilayah perairan Crystal Bay, Nusa Penida, salah satu spot diving populer yang dikenal dengan kejernihan laut dan kekayaan biota bawah air.
Namun ketika ditelusuri melalui peta digital dan citra satelit, tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan makhluk seperti yang ditampilkan dalam video viral tersebut.
Fakta akhirnya mengerucut pada satu hal: konten itu bukan dokumentasi, melainkan karya visual digital.
Kreator akun tersebut dikenal sebagai pembuat konten berbasis manipulasi visual menggunakan teknik pemetaan digital dan editing grafis.
Dalam deskripsi profilnya, ia bahkan secara terbuka menyebut bahwa seluruh kontennya adalah karya seni fiktif yang dibuat untuk tujuan hiburan dan eksplorasi visual.
Dengan kata lain, “alien di dasar laut Bali” itu bukan makhluk asing yang tiba-tiba muncul dari kedalaman samudra, melainkan karakter fiksi yang disisipkan ke dalam lanskap nyata menggunakan teknik visual yang dirancang untuk terlihat meyakinkan.
Meski fakta sudah terungkap, reaksi publik terlanjur terbagi dua. Ada yang menganggapnya sebagai karya kreatif yang menghibur dan inovatif, namun ada juga yang menilai konten semacam ini berpotensi menyesatkan karena terlalu realistis hingga sulit dibedakan dari kejadian nyata.
Fenomena ini kembali menunjukkan satu hal sederhana: di era algoritma dan visual AI yang semakin canggih, batas antara realitas dan rekayasa semakin tipis—dan kadang, yang membuat kita takut bukan lagi apa yang ada di laut dalam, tetapi apa yang muncul di layar ponsel kita sendiri. (*)
