LE Mans, Katasulsel.com — Di Moto3, ada satu aturan tak tertulis: bukan soal siapa tercepat di awal, tapi siapa yang tidak jatuh di waktu salah.

Itulah yang terjadi pada sesi practice Moto3 Prancis 2026 di Sirkuit Le Mans, Jumat (8/5/2026), saat dua talenta Asia Tenggara kembali dibandingkan dalam satu frame besar: Veda Ega Pratama dari Indonesia dan Hakim Danish Ramli dari Malaysia.

Kalau Veda hidup di sesi yang naik-turun seperti roller coaster, Hakim justru seperti garis lurus yang stabil.

Veda sempat “meledak” di awal sesi. Lap pertama sudah P4. Lap kedua bahkan sempat P3. Tapi Le Mans tidak pernah memberi hadiah gratis. Setelah itu, posisinya turun perlahan—P10, lalu P11, bahkan sempat terlempar ke P14.

Di titik itu, Veda ada di batas paling berbahaya: zona terakhir tiket Q2.

Camat Paling Merakyat Versi Pembaca

Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.

Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.

1 perangkat/IP = 1 suara

Memuat 3 besar...

Satu kesalahan kecil, dan ia harus masuk Q1—jalur tambahan yang sering jadi kuburan waktu bagi pembalap muda.

Tapi justru di situ Veda menunjukkan karakter Moto3-nya: tidak panik.

Dalam sisa waktu, ia mencatat 1 menit 40,779 detik. Cukup untuk mengangkat dirinya kembali ke P9 dan mengamankan tiket Q2. Hasil akhir: selamat, tapi lewat “pintu belakang tekanan”.

Hakim Danish berbeda cerita.

Ia tidak banyak drama. Tidak banyak jatuh ke zona bawah. Di tengah sesi yang kacau—di mana posisi depan berganti setiap beberapa menit—Hakim tetap berada di kelompok atas dan mengunci posisi aman lebih awal.

Kalau Veda bertarung dengan keadaan, Hakim bertarung dengan waktu—lebih rapi, lebih terukur, lebih “tenang di atas kertas”.

Hasilnya, dua-duanya sama-sama masuk Q2. Tapi jalannya tidak sama.

Veda: dari P3 ke P14 lalu selamat di P9.
Hakim: stabil di papan atas tanpa banyak turbulensi.

Di paddock Moto3, ini dua filosofi berbeda:

Veda adalah “pembalap chaos”—hidup saat kondisi kacau, berbahaya saat race panjang.
Hakim adalah “pembalap struktur”—kuat saat sesi pendek dan ritme terkontrol.

Dan Le Mans selalu punya cerita lama:
yang stabil di practice belum tentu dominan di race.
yang selamat dari tekanan, sering justru jadi ancaman di hari balapan.

Jumat sudah bicara angka.
Minggu nanti, baru bicara siapa yang benar-benar kuat.(*)

Editor
Mengawal akurasi dan kedalaman berita