LE Mans, Katasulsel.com —Kalau balapan Moto3 Prancis 2026 ini ditulis seperti novel, maka bab pertamanya sudah jelas: Hakim Danish Ramli unggul duluan. Tapi seperti biasa, cerita belum selesai di hari Jumat.

Di Sirkuit Le Mans, Jumat (8/5/2026) malam WIB, duel dua anak muda Asia Tenggara kembali jadi bahan pembicaraan paddock. Satu dari Malaysia, satu dari Indonesia. Hakim Danish Ramli dan Veda Ega Pratama.

Hakim membuka sesi lebih rapi. Di FP1 ia finis P7. Veda di P11. Beda tipis di kertas, tapi cukup untuk membangun psikologi di lintasan yang terkenal cepat berubah arah ini.

Masuk sesi Practice, Hakim naik kelas. P4. Langsung tembus Q2 tanpa drama. Ini yang disebut pembalap: “clean lap, clean ticket”.

Veda? Pelan tapi naik. P9. Masih aman, tapi belum cukup untuk mengganggu Hakim di papan atas sesi itu.

Camat Paling Merakyat Versi Pembaca

Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.

Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.

1 perangkat/IP = 1 suara

Memuat 3 besar...

Hakim lalu bicara singkat, gaya anak paddock modern:
“Cuaca bagus, feeling bagus, Q2 aman.”

Kalimat pendek. Tapi di Moto3, kalimat pendek bisa berarti kepercayaan diri panjang.

Namun seperti biasa, Le Mans bukan soal Jumat saja.

Ini sirkuit yang sering mengkhianati data latihan. Yang cepat di sesi awal belum tentu kuat di race pace. Yang tenang di Practice, bisa meledak di balapan Minggu.

Dan di sinilah nama Veda mulai masuk cerita lain.

Di seri sebelumnya di Jerez, meski kalah di sesi awal, Veda dikenal sebagai “pembalap hari Minggu”. Bukan yang paling cepat di kualifikasi, tapi sering paling berbahaya saat ban mulai aus dan mental mulai diuji.

Itu yang membuat duel ini tidak pernah sederhana.

Hakim kuat di struktur awal. Start, time attack, dan posisi grid. Veda hidup di chaos race: late braking, overtaking, dan momentum akhir.

Dua karakter, dua jalan.

MSI Racing yang menaungi Hakim bahkan menyebut performanya sudah masuk “front group window”—bahasa paddock untuk: sudah layak tempur di depan. Tapi semua juga tahu, Moto3 bukan soal layak, tapi soal bertahan sampai lap terakhir.

Sementara itu, di garasi seberang, Veda tidak terlalu peduli statistik sesi Jumat. Di Moto3, yang dihitung bukan headline latihan, tapi posisi saat bendera finis turun.

Le Mans masih menyisakan FP2, kualifikasi, lalu dua hari balapan.

Dan seperti biasa di kelas ringan Grand Prix, semuanya bisa berubah dalam satu slipstream saja.

Hari ini Hakim unggul angka.
Tapi Minggu masih jauh.

Dan di Moto3, yang sering menang bukan yang paling cepat di awal—melainkan yang paling tepat membaca kekacauan di akhir. (*)

Editor
Mengawal akurasi dan kedalaman berita