Makassar, Katasulsel.com —Tongkat komando Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah resmi berganti. Melalui Surat Telegram Kapolri Nomor: ST/960/V/KEP./2026, posisi Kapolda Sulteng kini diemban oleh Brigjen Pol. Nasri Sulaeman, perwira tinggi Polri asal Masenrempulu, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan.

Penunjukan ini menandai babak baru perjalanan karier Nasri di tubuh Bhayangkara, setelah sebelumnya menjabat sebagai Wakapolda Sulawesi Selatan sejak Juni 2024. Rotasi tersebut merupakan bagian dari pola pembinaan karier sekaligus penyegaran organisasi di lingkungan Kepolisian Republik Indonesia.

Nama Nasri bukan sosok asing di lingkaran penegakan hukum nasional. Lulusan Akademi Kepolisian tahun 1991 ini berasal dari Cakke, Kecamatan Anggeraja, Enrekang, dan dikenal sebagai perwira dengan latar kuat di bidang reserse.

Ia juga tercatat satu angkatan dengan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, sebuah catatan yang kerap menjadi sorotan dalam dinamika kepemimpinan internal Polri.

Karier lapangan Nasri terbilang panjang dan berlapis. Ia pernah menjabat Kapolres Jember, Wakapolres Metro Tangerang, hingga Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Banten. Di level lebih tinggi, ia juga dipercaya sebagai Direktur Reserse Kriminal Khusus di Polda Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur.

Camat Paling Merakyat Versi Pembaca

Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.

Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.

1 perangkat/IP = 1 suara

Memuat 3 besar...

Pengalaman itu membentuk reputasinya sebagai perwira reserse yang dikenal tegas dalam penegakan hukum, namun tetap mengedepankan pendekatan humanis dalam berbagai penanganan perkara.

Selain di fungsi reserse, Nasri juga memiliki rekam jejak di bidang operasional dan pembinaan. Ia pernah menjabat Wakapolda Kalimantan Selatan serta Direktur Samapta Korsabhara Baharkam Polri—posisi yang menuntut kemampuan manajerial sekaligus pengendalian operasional di lapangan.

Kombinasi pengalaman tersebut membuat Nasri kerap dipandang sebagai figur “komplit”: paham kerja lapangan, memahami struktur organisasi, sekaligus terbiasa menghadapi dinamika keamanan berskala regional.

Kini, tantangan baru menantinya di Sulawesi Tengah. Wilayah ini dikenal memiliki kompleksitas tinggi, mulai dari stabilitas keamanan pascakonflik, potensi kejahatan konvensional, hingga isu sumber daya alam dan pengawasan wilayah strategis.

Di sisi lain, tuntutan publik terhadap profesionalisme aparat dan transparansi penegakan hukum juga menjadi agenda penting yang tidak bisa dihindari.

Penunjukan Nasri sekaligus mengisi kekosongan jabatan Kapolda Sulteng setelah pejabat sebelumnya, Endi Sutendi, memasuki masa pensiun per 1 Mei 2026.

Di tengah transisi tersebut, harapan publik mulai mengemuka. Kehadiran perwira dengan pengalaman panjang di reserse dinilai dapat membawa pendekatan baru dalam menjaga stabilitas keamanan wilayah.

Dari Enrekang menuju pucuk pimpinan Polda Sulteng, perjalanan Nasri Sulaeman menjadi cerminan pola regenerasi di tubuh Polri—bahwa pengalaman lapangan, loyalitas struktural, dan konsistensi karier masih menjadi modal utama dalam penugasan strategis.

Kini, sorotan publik tertuju pada satu hal: sejauh mana pengalaman panjang itu akan diterjemahkan menjadi stabilitas dan kepercayaan masyarakat di Sulawesi Tengah. (*)

Editor
Mengawal akurasi dan kedalaman berita