Kendari, katasulsel.com — Ada kota yang lahir dari tambang, ada yang tumbuh dari jalan raya. Kendari lain cerita. Ia lahir dari teluk.

Sabtu, 9 Mei 2026, Kota Kendari genap berusia 195 tahun. Usia yang kalau manusia, sudah jadi “sesepuh panjang pengalaman”. Tapi Kendari justru terlihat seperti kota yang sedang belajar berlari.

Di pagi hari, Balai Kota jadi pusat upacara. Tapi sesungguhnya, ulang tahun ini tidak berhenti di barisan seremonial. Ia menyebar ke pasar murah, ke Pantai Nambo yang ramai permainan tradisional, sampai ke panggung malam di eks MTQ yang lebih mirip festival kota ketimbang perayaan daerah.

Lalu ada satu hal yang membuat ulang tahun ini berbeda dari biasanya: Kendari tidak sendirian.

Camat Paling Merakyat Versi Pembaca

Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.

Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.

1 perangkat/IP = 1 suara

Memuat 3 besar...

Di hari yang sama, kota ini menjadi tuan rumah forum internasional 2026 UCLG ASPAC. Delegasi dari 14 negara Asia Pasifik hadir. Biasanya kota ulang tahun dirayakan warga lokal, kali ini Kendari merayakan diri di depan “tetangga jauh”.

Wali Kota Kendari, Siska Karina Imran, menyebut usia 195 tahun ini bukan angka nostalgia, tapi titik tekan: apakah kota ini bisa naik kelas tanpa kehilangan identitas pesisirnya.

“Kendari harus tumbuh modern, tapi tetap berakar pada budaya,” begitu garis besarnya.

Kalau melihat data, kota ini memang sedang naik tangga. Pertumbuhan ekonomi sekitar 5,16 persen, inflasi relatif terjaga, dan indeks pembangunan manusia sudah masuk kelompok atas secara nasional.

Tapi Kendari tidak ingin hanya dikenal lewat angka.

Di forum yang sama, Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wijagus menyebut Kendari sebagai kota yang mulai masuk radar Asia Pasifik. Bukan karena besar, tapi karena posisinya: teluk, pelabuhan, dan jalur laut yang membuatnya pelan-pelan menjadi simpul ekonomi biru.

Istilah “ekonomi biru” di sini bukan sekadar jargon. Ia berarti laut bukan lagi batas, tapi pintu.

Pelabuhan, pariwisata bahari, distribusi logistik, sampai MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition) mulai disiapkan jadi wajah baru kota ini. Kendari ingin dikenal bukan hanya sebagai ibu kota provinsi, tapi sebagai kota pertemuan.

Menariknya, di tengah euforia modernisasi itu, Kendari tetap membawa “watak lama” kota pesisir: pasar murah, adat, permainan tradisional, dan ruang publik yang masih jadi panggung utama warga.

Di usia 195 tahun, Kendari seperti sedang berada di persimpangan unik: satu kaki di sejarah teluk, satu kaki lagi mencoba melangkah ke peta global.

Dan mungkin itu yang membuat ulang tahun kali ini terasa berbeda.

Bukan sekadar kota bertambah umur, tapi kota yang sedang bertanya pelan:
apakah teluk kecil ini bisa benar-benar jadi pintu besar dunia?

Editor
Mengawal akurasi dan kedalaman berita

Update terbaru: 09 Mei 2026 19:18 WIB