Sidrap, katasulsel.com — Sidrap sedang menulis babak baru dalam sejarah pertanian Indonesia.
Di bawah kepemimpinan Bupati Syaharuddin Alrif, daerah yang selama ini dikenal sebagai lumbung beras Sulawesi Selatan itu kini mulai bergerak menuju panggung pertanian dunia berbasis teknologi cerdas atau smart farming.
Langkah besar itu ditandai lewat kolaborasi internasional antara Universitas Hasanuddin dan The University of Newcastle Australia dalam proyek prestisius bertajuk Smart Agriculture Collaboration: Empowering Rural Farmers for Climate Resilience.
Di tengah ancaman krisis iklim global, cuaca yang makin sulit ditebak, hingga kekhawatiran dunia terhadap ancaman krisis pangan, Sidrap justru tampil percaya diri. Daerah yang dipimpin Syaharuddin Alrif itu perlahan menjelma menjadi “laboratorium masa depan” pertanian modern Indonesia.
Tak lagi sekadar bicara sawah dan panen, Sidrap kini mulai memasuki era baru: ketika kecerdasan buatan, Internet of Things (IoT), hingga teknologi blockchain turun langsung ke pematang sawah.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Di sinilah revolusi itu dimulai.
Dalam forum virtual yang berlangsung Kamis (7/5/2026), para akademisi lintas negara mulai menyusun peta jalan transformasi pertanian cerdas berbasis desa. Tim inti proyek terdiri dari Dr. Shaleeza Sohail, Dr. Teuku Aulia Geumpana, Muhammad Junaid, hingga Supratman.
Mereka tidak hanya membawa teknologi, tetapi juga gagasan besar tentang bagaimana petani desa bisa menjadi aktor utama dalam menghadapi perubahan iklim dunia.
Sidrap dipilih bukan tanpa alasan. Kabupaten ini selama puluhan tahun dikenal sebagai “jantung pangan” Sulawesi Selatan. Kultur agraris masyarakat Bugis yang kuat, disiplin petani, serta produktivitas pangan yang tinggi membuat Sidrap dianggap paling siap menjadi model pertanian modern berbasis teknologi di Indonesia Timur.
Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, Sidrap di bawah kepemimpinan Syaharuddin Alrif memang tengah agresif membangun citra sebagai daerah pertanian maju. Mulai dari penguatan irigasi, peningkatan indeks pertanaman, hingga stabilitas stok pangan yang membuat gudang-gudang beras di Sidrap nyaris selalu penuh.
Kini, langkah itu naik kelas.
Teknologi precision agriculture berbasis kecerdasan buatan akan mulai diperkenalkan untuk membantu petani membaca cuaca, mengatur pola tanam, memprediksi serangan hama, hingga meningkatkan efisiensi produksi.
Istilah populernya: “sawah mulai bicara data.”
Dr. Shaleeza Sohail yang dikenal sebagai pakar AI dan keamanan digital menyebut masa depan pertanian tidak lagi hanya bertumpu pada tenaga manusia, tetapi juga pada kemampuan teknologi membaca risiko lebih cepat dibanding perubahan alam itu sendiri.
Sementara Teuku Aulia Geumpana melihat Sidrap sebagai titik penting transformasi pertanian Indonesia karena memiliki kombinasi unik antara kekuatan budaya agraris dan kesiapan menerima inovasi teknologi.
………………..
Program ini nantinya melibatkan sekitar 300 peserta, mulai dari petani, penyuluh pertanian, mahasiswa, pemerintah daerah, hingga generasi muda desa. Menariknya, keterlibatan perempuan juga menjadi perhatian serius dalam proyek ini sebagai simbol pertanian modern yang inklusif.
Bagi banyak pihak, proyek ini bukan sekadar agenda kampus atau riset akademik biasa. Ini adalah pertaruhan masa depan pangan Indonesia.
Dan Sidrap sedang berdiri di garis depannya.
Dukungan penuh juga datang dari pimpinan Universitas Hasanuddin yang memastikan kolaborasi internasional ini akan dikawal serius agar memberi dampak nyata bagi masyarakat desa.
Rangkaian program dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026 melalui seminar internasional, lokakarya teknologi pertanian, hingga demonstrasi lapangan langsung di kawasan pertanian Sidrap.
Di tengah dunia yang mulai cemas menghadapi ancaman krisis pangan global, Sidrap justru mengirim pesan optimistis: masa depan pertanian Indonesia tidak boleh tertinggal.
Dari tanah Bugis, sebuah revolusi sedang ditanam.
Dan dunia mulai meliriknya. (*)
