
Tiga pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Sidrap bersaing dengan visi berbeda. DOATA, SAR KANAAH dan HAMASNA, ketiganya siap memimpin Sidrap menuju perubahan.
Oleh: Edy Basri
PILKADA Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) yang akan digelar pada 27 November 2024 bukan sekadar momentum politik lima tahunan.
Ini adalah panggung besar bagi tiga pasang calon yang membawa warna, latar belakang, dan visi berbeda.

Tiga poros ini, mencerminkan kekayaan sumber daya manusia Sidrap, yang kini bersaing menawarkan solusi untuk masa depan daerah yang dikenal sebagai lumbung pangan Sulawesi Selatan.
Pasangan Muh Yusuf Dollah dan Muh Datariansyah, atau yang dikenal dengan nama DOATA, menjadi representasi perpaduan pengalaman birokrasi dan profesionalisme.
Yusuf Dollah, mantan ASN yang pernah menduduki posisi penting di pemerintahan, membawa keunggulan manajemen pemerintahan yang rapi.
Pendampingnya, Datariansyah, seorang pengacara yang dikenal berdarah biru, memperkuat pasangan ini dengan perspektif hukum dan akar kekerabatan yang kokoh di Dua Pitue dan Panca Rijang.
Bersambung…
Kekuatan DOATA tak hanya terletak pada programnya yang sangat konkret dan membumi, tetapi juga pada basis sosial mereka. Yusuf Dollah berasal dari Watang Pulu, sebuah wilayah strategis yang menjadi episentrum suara di Sidrap.
Ikatan keluarganya yang tersebar di Pitu Riawa dan Pitu Riase memberikan peluang besar untuk membangun koneksi politik yang solid. Sementara itu, Datariansyah yang berdarah ningrat menawarkan daya tarik budaya di tengah komunitas tradisional.
Berbeda dengan DOATA, pasangan Syaharuddin Alrif dan Nur Kanaah yang dikenal dengan nama SAR KANAAH tampil membawa visi populis yang menyasar kebutuhan harian masyarakat.
Syaharuddin Alrif, seorang politisi berpengalaman dari Pitu Riase, dikenal sebagai tokoh yang pandai membangun jaringan politik.
Didukung oleh Nur Kanaah, seorang birokrat yang berasal dari Panca Rijang dan memiliki hubungan erat dengan komunitas di Baranti, pasangan ini menunjukkan keseimbangan antara strategi politik dan keahlian administratif.
SAR KANAAH membawa narasi perubahan yang berfokus pada kesejahteraan rakyat. Dari kesehatan gratis hingga peningkatan fasilitas agraris, pasangan ini berupaya merangkul seluruh segmen masyarakat.
Wilayah Maritengngae dan Baranti, yang menjadi salah satu basis utama mereka, memberikan daya dorong elektoral yang kuat. Basis ini tidak hanya besar dari sisi jumlah pemilih, tetapi juga strategis karena mencakup komunitas perkotaan dan agraris.
Sementara itu, pasangan H. Mashur dan H. Nasiyanto, atau HAMAS NA, menjadi pilihan alternatif yang membawa pendekatan berbasis kewirausahaan.
Bersambung…
Keduanya dikenal sebagai pengusaha sukses yang memiliki pengalaman panjang dalam dunia bisnis. Mashur, putra asli Kulo di utara Sidrap, dikenal dekat dengan masyarakat petani dan memiliki koneksi kekerabatan yang kuat di Panca Rijang dan Baranti.
Sementara Nasiyanto, yang berasal dari Tellu Limpoe, membawa pengaruh besar di wilayah Maritengngae dan Panca Lautang.
HAMAS NA menawarkan visi pembangunan Sidrap yang berfokus pada kemandirian ekonomi. Mereka berbicara tentang renovasi sekolah, pembangunan rumah sakit regional, hingga pengembangan kawasan wisata Danau Sidenreng sebagai ikon baru Sidrap.
Pendekatan ini bertujuan menarik generasi muda dan kelompok produktif yang mendambakan perubahan berbasis inovasi.
Tiga pasangan ini hadir dengan kekuatan berbeda, baik dalam pendekatan program maupun strategi politik.
DOATA menawarkan program yang menyentuh langsung kebutuhan dasar masyarakat miskin, seperti keringanan PBB, listrik gratis, dan bedah rumah.
SAR KANAAH membawa visi populis yang mencakup kesehatan gratis, stabilitas harga komoditas, dan penguatan sektor agraris.
Sementara itu, HAMAS NA lebih menonjol dalam membangun narasi ekonomi berkelanjutan melalui investasi pendidikan, pengembangan sektor wisata, dan penguatan infrastruktur desa.
Bersambung…
Dari segi geografis dan basis sosial, ketiganya juga memiliki strategi unik. DOATA kuat di Watang Pulu, Pitu Riawa, dan Dua Pitue, dengan jaringan kekerabatan yang tersebar luas.
SAR KANAAH memiliki pijakan di Maritengngae dan Panca Rijang, sementara HAMAS NA memanfaatkan kekuatan komunitas di Kulo, Baranti, dan Tellu Limpoe.
Namun, pertarungan ini bukan hanya soal kekuatan basis atau program unggulan, tetapi juga tentang siapa yang mampu merangkul aspirasi masyarakat Sidrap secara utuh.
Dalam konteks politik lokal, hubungan personal dan kedekatan emosional menjadi faktor yang tak kalah penting.
Setiap pasangan memiliki peluang yang sama untuk menang, tetapi kunci utamanya adalah bagaimana mereka mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara konkret dan menjalin hubungan langsung dengan pemilih.
Ketika pemilihan semakin dekat, atmosfer politik Sidrap semakin memanas. Perdebatan mengenai program unggulan, basis dukungan, hingga strategi kampanye terus bergulir di tengah masyarakat.
Pilkada kali ini akan menjadi cerminan dari dinamika demokrasi Sidrap yang semakin matang. Ketiganya adalah putra-putri terbaik Sidrap, tetapi hanya satu yang akan mendapat amanah dari rakyat.
Masyarakat kini hanya menunggu siapa yang akan tampil sebagai pemimpin baru yang mampu membawa Sidrap menuju masa depan yang lebih cerah.(*)