Yogyakarta, Katasulsel.com – Sidang promosi doktor di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) kembali melahirkan catatan akademik yang menarik perhatian. Salah satunya datang dari sivitas Universitas Muhammadiyah Sidenreng (UMS) Rappang, di mana Kaprodi Ilmu Pemerintahan, Dr. Sandi Lubis, S.I.P., M.A.P., resmi meraih gelar doktor dengan capaian yang terbilang “outlier” di dunia akademik.
Bukan hanya lulus, ia menuntaskan studi doktoralnya dalam waktu 2 tahun 9 bulan dan meraih predikat Pujian (Cumlaude), sebuah kombinasi yang dalam tradisi akademik kerap disebut sebagai akselerasi akademik di jalur riset.
Di ruang sidang terbuka Promosi Doktor yang digelar Rabu (20/05/2026), Sandi tidak sekadar mempertahankan disertasi, tetapi juga mempresentasikan sebuah model yang menyentuh isu paling krusial dalam tata kelola digital pemerintahan: keamanan data dan partisipasi publik.
Disertasinya berjudul “Model Partisipasi Elektronik dalam Layanan E-Government: Integrasi UMEGA dan Cybersecurity pada Aplikasi Anrong Pemerintah Kota Makassar.” Di dalamnya, ia mengembangkan pendekatan Unified Model of Electronic Government Adoption (UMEGA) menjadi model baru bernama Secure UMEGA.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Dalam bahasa akademik, ini bukan sekadar pengembangan teori, tetapi upaya rekonstruksi model adopsi e-government dengan memasukkan variabel keamanan siber sebagai faktor determinan kepercayaan publik.
Sederhananya, riset ini menjawab satu pertanyaan kunci: apakah layanan digital pemerintah bisa benar-benar berjalan jika masyarakat tidak merasa aman dengan data mereka?
Jawaban yang ditawarkan Sandi adalah tidak bisa.
Dan di situlah letak nilai kebaruannya.
Yang membuat capaian ini mencuri perhatian kalangan akademik adalah produktivitas risetnya. Selama masa studi, ia berhasil menerbitkan 7 artikel ilmiah di jurnal terindeks Scopus, sebuah angka yang dalam standar doktoral menunjukkan intensitas riset yang tidak biasa.
Di dunia akademik, angka tersebut sering dijadikan indikator “research throughput” atau laju produksi ilmiah mahasiswa doktoral.
Sidang promosi doktor ini dipimpin oleh Dr. Suswanta, M.Si., dengan jajaran penguji yang terdiri dari sejumlah guru besar lintas disiplin ilmu pemerintahan dan kebijakan publik. Sandi juga tercatat sebagai Doktor ke-6 pada program tersebut dalam periode sidang berjalan, bersama satu kandidat mahasiswa asing.
Yang menarik, proses pendidikan doktoralnya disebut mendapat dukungan institusional penuh dari UMY sebagai bagian dari skema penguatan ekosistem riset dan publikasi internasional.
Rektor UMY, Prof. Dr. Achmad Nurmandi, M.Sc., yang juga bertindak sebagai promotor, memberikan catatan akademik tersendiri. Ia menyebut Sandi sebagai tipikal mahasiswa doktoral dengan karakter fast learner dan memiliki konsistensi riset yang kuat.
“Publikasi Scopus selama studi menunjukkan kapasitas akademik yang solid dan terukur,” ungkapnya dalam forum sidang.
Dari pihak UMS Rappang, capaian ini juga dipandang sebagai bagian dari penguatan kultur akademik kampus. Rektor UMS Rappang, Prof. Dr. Jamaluddin Ahmad, menilai keberhasilan tersebut dapat menjadi referensi internal dalam membangun tradisi riset yang lebih produktif di lingkungan dosen.
Sementara itu, Dr. Sandi Lubis sendiri menempatkan capaian ini sebagai bagian dari perjalanan intelektual, bukan sekadar gelar akademik.
Ia menegaskan bahwa isu transformasi digital pemerintahan, khususnya pada aspek e-government dan keamanan siber, akan menjadi ruang riset yang terus berkembang di Indonesia.
Di tengah tren global digitalisasi birokrasi, riset seperti Secure UMEGA menempatkan dirinya pada irisan antara teknologi, kebijakan publik, dan kepercayaan masyarakat—tiga elemen yang kini menjadi pusat diskursus pemerintahan modern.
Dan dari ruang sidang UMY, satu catatan akademik baru pun tercatat: akselerasi doktor bukan lagi pengecualian, tetapi mulai menjadi bagian dari dinamika baru dunia riset Indonesia. (*)
