WONOSOBO β Sebuah bangunan Koperasi Merah Putih di lereng Gunung Prau mendadak viral di media sosial. Bukan karena omzetnya. Bukan pula karena antrean pembeli. Tapi karena lokasinya yang membuat banyak orang mengernyitkan dahi.
Di atas gunung.
Di tengah tanjakan.
Jauh dari keramaian.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Netizen pun ramai melontarkan satire. βKalau mau beli minyak goreng harus sekalian latihan fisik,β tulis salah satu komentar. Ada juga yang bercanda, koperasi itu cocok jadi tempat persinggahan pendaki yang lupa membawa kopi.
Video bangunan koperasi tersebut beredar luas. Tampak berdiri cukup megah dengan latar kabut pegunungan. Sepintas indah. Estetik. Cocok jadi konten media sosial. Tapi publik lalu bertanya sederhana: apakah lokasi seperti itu benar-benar strategis untuk kegiatan ekonomi warga?
Sebab koperasi sejatinya hidup dari lalu lintas manusia. Dari aktivitas harian. Dari denyut transaksi kecil yang terus bergerak. Bukan hanya papan nama besar yang berdiri gagah di tempat sunyi.
Di desa-desa pegunungan, akses memang sering menjadi masalah klasik. Jalan sempit. Distribusi mahal. Mobilitas warga terbatas. Karena itu, sebagian masyarakat justru heran ketika bangunan koperasi ditempatkan di titik yang dianggap sulit dijangkau.
βKalau warga harus naik turun gunung cuma untuk beli kebutuhan pokok, kapan untungnya?β celetuk seorang warga di media sosial.
Namun di balik kritik dan candaan itu, ada sisi lain yang juga menarik dibaca. Bisa jadi pemerintah desa ingin menunjukkan bahwa pembangunan tak hanya berpusat di kota atau kawasan ramai. Bahwa daerah lereng gunung pun ingin ikut disentuh program ekonomi.
Hanya saja, publik sekarang semakin kritis. Mereka tidak lagi sekadar melihat bangunan berdiri. Mereka ingin tahu: apakah tempat itu benar-benar dibutuhkan? Apakah akan ramai? Apakah nanti hidup atau justru terkunci sunyi setelah seremoni selesai?
Karena di Indonesia, banyak proyek tampak megah saat diresmikan. Spanduk terbentang. Kamera menyala. Sambutan bergema. Setelah itu perlahan sepi.
Tinggal papan nama.
Tinggal cat yang memudar.
Dan kadang tinggal pertanyaan yang terus berulang: siapa sebenarnya yang akan datang membeli di sana?
