Bukan cuma di Masjid-masjid. Besok, takbir Idul Adha di Sidrap juga akan menggema dari halaman Polres Sidrap.

Penulis: Edy Basri

Ada sesuatu yang pelan tapi pasti berubah dari cara sebuah institusi negara memaknai hari besar keagamaan.

Di Sidrap, perubahan itu tidak diumumkan dengan gegap gempita. Ia hadir dalam bentuk yang lebih sederhana: sebuah ajakan.

AKBP Fantry Taherong, Kapolres Sidrap, membuka pintu Mapolres untuk salat Idul Adha berjamaah.

Camat Paling Merakyat Versi Pembaca

Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.

Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.

1 perangkat/IP = 1 suara

Memuat 3 besar...

“Silakan masyarakat datang, ajak keluarga, tetangga, dan kerabat,” begitu kira-kira pesan yang ia sampaikan.

Kalimat yang tidak terdengar seperti instruksi. Lebih mirip undangan seorang tuan rumah kepada tetangganya.

Dan dari situlah cerita ini mulai bergerak.

Mapolres Sidrap bukan tempat baru bagi warga Sidrap.

Banyak urusan administratif, laporan kehilangan, pengaduan, hingga urusan lalu lintas berakhir di sini.

Sebuah tempat yang selama ini identik dengan jarak: antara warga dan kewenangan.

Tapi Idul Adha 1447 Hijriah esok, 27 Mei 2026, akan membawa cerita lain.

Halaman Mapolres akan berubah fungsi.

Dari ruang formal menjadi ruang ibadah. Dari simbol institusi menjadi ruang komunal.

Salat Idul Adha akan digelar di sana, ini akan lebih ramai dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Sejauh ini, saya juga sudah mendapat informasi penting siapa pemimpin salat.

Infonya, Ustadz Jamaluddin dipercaya jadi imamnya, sementara khatibnya Dr. Mursidin Albin.

Dua nama yang datang dari luar struktur kepolisian. Dua suara yang akan berdiri di tengah institusi negara, menyampaikan pesan keagamaan yang bersifat universal.

Dan di titik itu, sekat mulai terasa menipis.

Tidak ada pagar psikologis yang benar-benar tebal antara “polisi” dan “warga”. Yang ada hanya saf-saf yang akan disusun di atas halaman itu.

Kapolres Fantry tidak berbicara dengan bahasa yang rumit.

Tidak ada istilah birokratis yang berlapis-lapis. Yang muncul justru bahasa sehari-hari: ajakan, kebersamaan, silaturahmi.

Ia menyebut Idul Adha sebagai momentum mempererat ukhuwah.

………………..

Pemimpin Redaksi
Edy Basri adalah Pemimpin Redaksi Katasulsel.com. Lulus Ujian Kompetensi Wartawan (UKW) Dewan Pers sejak 2018 (Wartawan Utama). Sebelumnya sebagai jurnalis di Koran Harian Fajar.