Sebuah istilah yang sering terdengar di ruang-ruang pengajian, tetapi di sini diterjemahkan ke dalam tindakan konkret: membuka halaman Mapolres untuk shalat berjamaah.
Biasanya, institusi negara berbicara lewat regulasi. Tapi kali ini, ia berbicara lewat ruang.
Ruang yang dibuka.
Ruang yang dibagi.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Ruang yang tidak lagi eksklusif.
Dan dari ruang itu, pesan sosialnya menjadi lebih kuat daripada sekadar pernyataan resmi.
Setelah shalat Idul Adha, cerita tidak berhenti.
Polres Sidrap kabarnya menyiapkan 11 ekor sapi kurban untuk Idul Adha tahun ini. Ini info valid juga ya. Istilah anak muda, A1.
Jumlah yang tidak kecil untuk ukuran institusi kepolisian di tingkat kabupaten.
Kapolres Fantry menyebutkan bahwa hewan kurban itu berasal dari sumbangsih personel Polres Sidrap sendiri.
Sebuah bentuk gotong royong internal yang kemudian berubah menjadi manfaat eksternal.
βAlhamdulillah, ada 11 ekor sapi kami siapkan tahun ini. Insya Allah akan dibagikan kepada masyarakat yang berhak menerima,β ujarnya.
Tidak ada kalimat berlebihan di sana. Tidak ada narasi heroik yang dibuat-buat. Hanya penegasan sederhana tentang distribusi.
Tapi justru kesederhanaan itu yang membuatnya terasa kuat.
Karena kurban, pada akhirnya, memang bukan soal besar kecilnya angka. Tapi soal bagaimana ia berpindah dari satu titik ke titik lain dalam masyarakat.
Dari yang mampu ke yang membutuhkan.
Dari institusi ke warga.
Polisi, Kurban, dan Bahasa Kedekatan
Di banyak tempat, polisi sering hadir dalam bahasa formal: pengamanan, penertiban, operasi, patroli.
Tapi dalam momen Idul Adha ini, bahasa itu bergeser.
Menjadi bahasa kurban.
Bahasa daging yang dibagi.
Bahasa kebersamaan yang tidak perlu banyak penjelasan.
Di halaman Polsek Maritengngae, penyembelihan hewan kurban akan dilakukan. Bukan sebagai ritual tertutup, tetapi sebagai proses sosial yang melibatkan banyak tangan.
Dagingnya nanti akan menyebar ke berbagai rumah.
………………..
