Dan di situ, institusi kepolisian tidak lagi hanya dikenali lewat kewenangan, tetapi juga lewat kepedulian.

Idul Adha selalu datang dan pergi dalam satu siklus waktu yang singkat. Satu hari shalat. Satu hari penyembelihan. Beberapa hari distribusi.

Tapi maknanya tidak berhenti di situ.

Di Sidrap, apa yang dilakukan Polres mencoba memperpanjang makna itu.

Camat Paling Merakyat Versi Pembaca

Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.

Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.

1 perangkat/IP = 1 suara

Memuat 3 besar...

Shalat Idul Adha di halaman Mapolres bukan hanya acara seremonial. Ia menjadi simbol keterbukaan ruang.

Kurban 11 ekor sapi bukan hanya kegiatan tahunan. Ia menjadi simbol distribusi sosial dari institusi kepada warga.

Dan keduanya bertemu dalam satu narasi: kedekatan.

Antara Seragam dan Sajadah

Ada sesuatu yang menarik ketika seragam dan sajadah bertemu di ruang yang sama.

Seragam melambangkan kewenangan.

Sajadah melambangkan kepasrahan.

Di halaman Mapolres Sidrap, dua simbol itu akan berada dalam ruang yang sama.

Tidak saling meniadakan. Tidak saling mendominasi.

Hanya berdampingan.

Dan di titik itu, masyarakat melihat sesuatu yang jarang mereka lihat dalam keseharian: institusi negara yang menurunkan jarak simboliknya, tanpa kehilangan fungsinya.

Sidrap dan Bahasa Sosial yang Sederhana

Sidrap bukan kota yang hidup dari simbol-simbol besar. Ia lebih banyak bergerak dalam keseharian yang sederhana: sawah, pasar, jalan desa, dan interaksi yang masih saling mengenal nama.

Di ruang seperti itu, kebijakan sosial sering kali tidak cukup jika hanya berbentuk dokumen. Ia harus menjadi pertemuan langsung.

Dan ajakan Kapolres Sidrap untuk melaksanakan shalat Idul Adha di Mapolres adalah bentuk pertemuan itu.

Pertemuan antara institusi dan warga.

Pertemuan antara kewenangan dan kebersamaan.

………………..

Pemimpin Redaksi
Edy Basri adalah Pemimpin Redaksi Katasulsel.com. Lulus Ujian Kompetensi Wartawan (UKW) Dewan Pers sejak 2018 (Wartawan Utama). Sebelumnya sebagai jurnalis di Koran Harian Fajar.