Enrekang, katasulsel.com — Di tengah derasnya arus modernisasi dan minimnya generasi muda yang memilih jalan pengabdian, kisah seorang pemuda bernama Fitroh Supianto menjadi cerita yang menyentuh hati warga Desa Enrekeng, Kecamatan Ganra, Kabupaten Soppeng.
Sejak lima tahun terakhir, Fitroh telah mengabdikan diri sebagai Imam Rawatib di Masjid Nurul Iman Enrekeng. Awalnya, ia hanya dikontrak sementara untuk mengisi posisi imam selama bulan Ramadan. Namun, jalan takdir berkata lain.
Melalui musyawarah pengurus masjid bersama pemerintah desa, Fitroh kemudian dipercaya untuk mengemban amanah sebagai imam rawatib secara berkelanjutan—bahkan tanpa batas waktu yang ditentukan.
Masjid Nurul Iman Enrekeng menjadi saksi perjalanan pengabdian seorang pemuda yang memilih hidupnya untuk agama dan masyarakat.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Dari Anak Transmigrasi Jadi Pengabdi Rumah Ibadah
Fitroh bukan berasal dari keluarga besar di Soppeng. Ia diketahui merupakan keturunan keluarga Jawa yang sebelumnya bertransmigrasi ke wilayah yang kini dikenal sebagai Kampung Jawa di Sulawesi Barat.
Kampung Jawa menjadi latar awal kehidupan keluarganya yang sederhana namun religius. Sejak kecil, Fitroh telah diarahkan untuk menempuh pendidikan agama dan kemudian menimba ilmu di berbagai lembaga keislaman.
Ia juga pernah menempuh pendidikan di pesantren dan tercatat sebagai santri penghafal Al-Qur’an di Pondok Pesantren Yayasan Perguruan Islam Ganra.
Pondok Pesantren Yayasan Perguruan Islam Ganra menjadi tempat yang membentuk karakter disiplin, religius, dan pengabdiannya kepada masyarakat.
Mahasiswa, Imam, dan Perjuangan Tanpa Menyerah
Di sela tugasnya sebagai imam rawatib, Fitroh juga menjalani kehidupan sebagai mahasiswa di STAI Al-Ghazali jurusan Pendidikan Agama Islam.
STAI Al-Ghazali menjadi tempat ia menempuh pendidikan tinggi sambil tetap menjalankan tanggung jawabnya di masjid.
Perjalanan itu tidak mudah. Namun kerja keras dan ketekunan membuatnya berhasil menyelesaikan studi dengan hasil yang sangat memuaskan.
Cinta Tumbuh dari Pengabdian
Di balik kesibukan sebagai imam dan mahasiswa, kisah hidup Fitroh juga memasuki babak baru. Ia akhirnya mempersunting seorang perempuan asal Enrekeng yang dikenal sebagai salah satu “bunga desa”.
………….
