Bangkok, katasulsel.com — Tak ada pidato perpisahan. Tak ada penampilan terakhir di hadapan rakyat.

Yang tersisa hanyalah keheningan panjang selama 1.275 hari.

Pada 14 Desember 2022, Putri Bajrakitiyabha Mahidol menjalani aktivitas yang tampak biasa. Putri sulung Raja Thailand itu sedang melatih anjing untuk kegiatan militer di Provinsi Nakhon Ratchasima ketika sebuah peristiwa mendadak mengubah hidupnya untuk selamanya.

Ia kehilangan kesadaran.

Hari itu menjadi kali terakhir publik melihat salah satu figur paling berpengaruh di keluarga kerajaan Thailand menjalankan aktivitasnya.

Lebih dari tiga tahun kemudian, Kamis (11/6/2026), Istana Kerajaan Thailand mengumumkan kabar yang selama ini ditakuti banyak pihak: Putri Bajrakitiyabha meninggal dunia pada usia 47 tahun setelah menjalani perawatan panjang akibat gangguan jantung serius.

Kisahnya bukan sekadar tentang seorang putri kerajaan yang jatuh sakit.

Bajrakitiyabha dikenal sebagai sosok yang memilih jalan pengabdian di luar kemewahan istana.

Lahir pada 7 Desember 1978, ia tumbuh sebagai putri mahkota yang lebih sering ditemukan di ruang hukum dan forum internasional ketimbang pesta kerajaan.

Ia menempuh pendidikan hukum hingga meraih gelar doktor dari Cornell University di Amerika Serikat. Kariernya berkembang sebagai jaksa, diplomat, hingga Duta Besar Thailand untuk Austria.

Namanya juga dikenal luas dalam berbagai program yang memperjuangkan hak perempuan, reformasi hukum, dan perlindungan kelompok rentan dalam sistem peradilan.

Banyak kalangan melihatnya sebagai wajah modern monarki Thailand: terdidik, aktif, dan dekat dengan isu-isu sosial.

Karena itu, ketika kabar gangguan jantungnya muncul pada akhir 2022, Thailand seakan kehilangan salah satu tokoh publik yang paling menjanjikan.

Meski tim medis berhasil menyelamatkan nyawanya saat itu, sang putri tak pernah benar-benar kembali.

Hari berganti minggu.

Minggu berganti bulan.

Bulan berubah menjadi tahun.

Namun pintu ruang perawatan tetap menjadi batas antara dirinya dan dunia luar.

Pernyataan resmi kerajaan yang muncul dari waktu ke waktu hanya memberi secercah informasi mengenai kondisinya yang terus menjadi perhatian publik.

Dalam beberapa bulan terakhir, kesehatannya dilaporkan semakin menurun. Komplikasi medis mulai bermunculan, mulai dari infeksi serius dalam rongga perut hingga gangguan pada sistem peredaran darah dan fungsi organ vital.

Perjuangan panjang itu akhirnya berakhir pada Juni 2026.

Kepergian Bajrakitiyabha bukan hanya kehilangan bagi keluarga kerajaan Thailand.

Bagi banyak kalangan, ia adalah simbol seorang bangsawan yang memilih bekerja, belajar, dan mengabdi di luar tembok istana.

Perjalanan hidupnya melintasi banyak ruang: ruang kuliah, ruang sidang, ruang diplomasi, hingga ruang advokasi kemanusiaan.

Ironisnya, bab terakhir kehidupannya justru dihabiskan di ruang perawatan yang sunyi.

Dan setelah 1.275 hari tanpa suara, tanpa penampilan publik, dan tanpa kepastian yang pernah benar-benar diketahui dunia luar, perjalanan Putri Bajrakitiyabha akhirnya berakhir.

Thailand kehilangan seorang putri.

Dunia kehilangan seorang diplomat yang pernah menjadikan hukum dan kemanusiaan sebagai panggung pengabdiannya.(*)