MAKASSAR — Awalnya hanya satu video pendek di TikTok. Durasi tak sampai beberapa menit. Tapi efeknya panjang.

Unggahan yang menampilkan M Taufik Hidayat, Ketua Mada Laskar Merah Putih (LMP) Sulawesi Selatan, langsung menyedot perhatian. Isinya soal dugaan kejanggalan dalam pengadaan seragam sekolah di Kota Makassar.

Video itu kemudian menyebar cepat. Dari TikTok, berpindah ke grup-grup WhatsApp. Lalu jadi bahan obrolan di warung kopi.

Yang membuat publik makin penasaran, dalam tayangan tersebut diperlihatkan bukti tanda terima laporan dan dokumen pengaduan yang disebut telah dikirim ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Bahkan, ada tangkapan layar status pengaduan online yang menunjukkan alur administrasi: diterima, diverifikasi, hingga verifikasi selesai.

Di sinilah sisi uniknya.

Sebuah isu pengadaan seragam sekolah—yang biasanya hanya jadi pembicaraan internal—mendadak naik kelas menjadi konsumsi publik nasional karena satu platform: TikTok.

Belum ada penjelasan resmi mengenai detail nilai ataupun perkembangan lebih lanjut. Namun kabar bahwa laporan telah masuk tahap verifikasi membuat perbincangan makin liar.

Sebagian warganet meminta publik bersabar menunggu proses. Sebagian lain mendesak agar semuanya dibuka terang agar tak menimbulkan spekulasi berkepanjangan.

Isu ini sensitif. Seragam sekolah bukan sekadar kain dan jahitan. Ia menyangkut kebutuhan siswa dan keluarga.

Apalagi jika dikaitkan dengan penggunaan anggaran daerah, perhatian publik tentu tak bisa dihindari.

Fenomena ini juga menunjukkan perubahan pola kontrol sosial.

Dulu laporan disampaikan, lalu menunggu proses tanpa banyak yang tahu. Kini, satu unggahan bisa langsung menjadi bola salju opini.

Makassar sedang menyaksikan bagaimana media sosial bisa mengangkat isu lokal menjadi diskusi luas.

Selebihnya, publik menunggu penjelasan resmi agar perbincangan tak terus bergerak di ruang asumsi.

Dari layar ponsel, isu ini kini bergulir ke ruang yang lebih formal. (*)