Sidrap, Katasulsel.com – Kalau Ramadan tiba, denyut sore di Kabupaten Sidenreng Rappang berubah drastis. Orang-orang keluar rumah lebih cepat. Jalanan di sekitar Kota Pangkajene pelan-pelan padat. Satu titik yang paling terasa getarannya: kawasan sekitar Masjid Agung Pangkajene dan ruang terbuka di sekitarnya.

Inilah episentrum ngabuburit di Sidrap.

Anak muda datang bergerombol. Ada yang pakai motor matic berderet rapi. Ada yang nongkrong sambil gelar tikar kecil. Ada juga yang sekadar duduk di pinggir trotoar, menatap langit yang perlahan berubah warna. Senja di Sidrap memang tidak pernah gagal.

“Kalau Ramadan, ya ke sini. Di rumah bosan,” kata Ilham (18), siswa SMA di Pangkajene. Tangannya sibuk pegang gelas es teh jumbo. “Di sini bisa ketemu teman, bisa foto-foto. Lebih hidup,” tambahnya.

Target SEO boleh saja “Sidrap”, tapi realitasnya memang demikian: pusat kota jadi magnet. Pedagang takjil memanjang seperti parade rasa. Jalangkote panas, tahu isi, pisang goreng, es buah, sampai minuman kekinian dengan topping warna-warni. Aroma gorengan bercampur angin sore menciptakan godaan kolektif.

Ria (21), mahasiswi yang pulang kampung ke Sidrap, mengaku suasana Ramadan di daerah justru lebih terasa. “Di Makassar ramai, tapi di Sidrap lebih hangat. Semua kayak saling kenal,” ujarnya. Ia datang bersama dua temannya, duduk tak jauh dari pelataran masjid. “Ini spot paling aman dan nyaman buat ngabuburit di Sidrap.”

Menjelang magrib, suasana makin padat. Motor merayap pelan. Mobil parkir berlapis. Tapi tidak ada yang benar-benar marah. Semua seperti mafhum: ini ritual tahunan.

Di sisi lain, ada yang datang bukan cuma untuk nongkrong. Komunitas lari sore mulai terlihat rutin melintasi jalur sekitar kota. “Bakar kalori dulu sebelum buka,” canda Ardi (27), pegawai swasta yang mengaku hampir tiap sore ikut jogging ringan. “Ramadan bukan alasan malas gerak.”

Fenomena ngabuburit di Sidrap juga jadi berkah kecil bagi pelaku UMKM. Banyak pedagang musiman muncul. Ada yang biasanya tidak jualan, mendadak buka lapak khusus Ramadan. “Alhamdulillah, sore begini cepat habis,” kata Nurhayati (43), penjual es buah yang lapaknya tak pernah sepi pembeli.

Yang menarik, generasi muda Sidrap kini menjadikan momen ini sebagai ajang eksistensi digital. Story Instagram, live TikTok, foto siluet senja berlatar masjid—semuanya berseliweran. Sidrap tak lagi sunyi. Ia tampil percaya diri.

Ketika azan magrib berkumandang dari Masjid Agung Pangkajene, suasana berubah dramatis. Dari riuh jadi khidmat. Dari tawa jadi doa. Botol air mineral dibuka bersamaan. Kurma berpindah tangan. Wajah-wajah lelah berubah lega.

Beginilah Ramadan di Sidrap. Bukan cuma soal menunggu waktu berbuka, tapi soal kebersamaan.

Kalau Anda mencari tempat ngabuburit paling keren di Sidrap, jawabannya ada di jantung Kota Pangkajene. Datanglah sore hari. Rasakan sendiri bagaimana Kabupaten Sidenreng Rappang menyulap waktu tunggu jadi momen yang selalu dirindukan.(*)

Gambar berita Katasulsel

Terima kasih telah membaca Katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Kami selalu menghadirkan fakta jernih, analisis mendalam, dan berita terkini. Jangan lewatkan berita pilihan lainnya secara gratis melalui saluran WhatsApp resmi kami: Gabung di sini.