Jakarta, katasulsel.com — Ironis.
Seorang pedagang bisa kehilangan pembeli karena barang yang dijualnya. Namun di era media sosial, seseorang juga bisa kehilangan simpati hanya karena satu kalimat.
Itulah yang sedang menjadi sorotan dalam kisah Sarwendah.
Bukan karena bisnisnya. Bukan karena produk yang dipasarkan saat siaran langsung. Melainkan karena emosi yang sempat lolos dari penjagaan.
Sebuah potongan video pendek mendadak beredar luas. Durasinya singkat. Namun dampaknya panjang. Dalam hitungan jam, video itu berpindah dari satu gawai ke gawai lain. Dari satu akun ke akun berikutnya.
Internet kembali menunjukkan tabiat lamanya.
Tidak pernah lupa.
Netizen pun bergerak cepat. Ada yang mengkritik. Ada yang menyayangkan. Sebagian bahkan menyerukan boikot terhadap aktivitas bisnis yang berkaitan dengan sang selebritas.
Fenomena seperti ini sebenarnya bukan hal baru.
Di dunia digital, kesalahan sering kali tidak diukur dari besar atau kecilnya peristiwa. Yang menentukan adalah seberapa luas peristiwa itu tersebar.
Dan algoritma selalu menyukai sesuatu yang memancing emosi.
Semakin ramai diperdebatkan, semakin tinggi penyebarannya. Semakin tinggi penyebarannya, semakin banyak orang ikut memberikan penilaian.
Pada titik tertentu, ruang komentar berubah menjadi ruang pengadilan.
Semua orang merasa memiliki hak untuk menjadi hakim.
Di tengah derasnya kritik, Sarwendah akhirnya memilih muncul dan menyampaikan permintaan maaf. Ia mengakui emosinya sempat terpancing dan menyesali kegaduhan yang muncul setelah video tersebut viral.
Langkah itu mungkin meredakan sebagian situasi.
Namun dunia maya memiliki aturan sendiri.
Permintaan maaf memang bisa menghentikan kemarahan sebagian orang. Tetapi jejak digital sering kali tetap hidup jauh setelah kontroversi mereda.
Kasus ini kembali memperlihatkan satu kenyataan yang kini dihadapi para figur publik.
Mereka tidak hanya menjual karya.
Tidak hanya menjual produk.
Tidak hanya menjual popularitas.
Mereka menjual citra.
Dan citra adalah aset yang nilainya bisa lebih mahal daripada omzet penjualan dalam satu malam.
Karena itu, di era live streaming, ancaman terbesar bukanlah produk yang gagal laku.
Melainkan satu detik emosi yang terekam kamera. Sebab ketika rekaman itu terlanjur beredar, yang diuji bukan lagi kemampuan berjualan.
Melainkan kemampuan mempertahankan kepercayaan publik. (*)
